Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Harga Gabah Naik, Petani di Sragen Justru Diintervensi agar Jual dengan Harga Murah: Disodori Surat Pernyataan hingga Bikin Resah

Ahmad Khairudin • Minggu, 24 Agustus 2025 | 22:09 WIB
Panen raya di Kabupaten Sragen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Panen raya di Kabupaten Sragen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Para petani di Kabupaten Sragen merasa gelisah. Mereka diwajibkan menjual gabah hasil panen seharga Rp 6.500 per kilogram (kg).

Kewajiban ini tercantum dalam sebuah surat pernyataan yang tersebar luas di media sosial tanpa keterangan siapa yang bertanggung jawab.

Surat pernyataan tersebut tersebar secara berantai ke petani dan pedagang beras. Berdasarkan surat pernyataan yang diunggah, maksud dari dokumen tersebut mendorong komitmen dari perusahaan produsen atau distributor beras agar membeli gabah dari petani sesuai harga pemerintah (HPP).

Perusahaan tersebut berjanji hanya akan membeli gabah kering panen dari petani dengan harga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah yaitu Rp 6.500 per kg.​

Kemudian menjual beras sesuai harga pemerintah yakni harga eceran tertinggi (HET). Perusahaan juga berkomitmen untuk menjual beras yang sudah mereka olah ke pasaran dengan HET yang ditetapkan oleh pemerintah.

Surat ini menjadi sumber keresahan karena para petani. Mereka merasa dipaksa untuk menjual hasil panen mereka dengan harga Rp 6.500 per kg.

Padahal, harga pasar saat ini jauh lebih tinggi, sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

​Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen Suratno membenarkan adanya surat pernyataan tersebut.

Dia pun mempertanyakan kebijakan ini. Menurutnya, harga Rp 7.800 per kg adalah harga yang wajar dan bisa membuat petani sejahtera.

”Petani seharusnya bisa menikmati hasil jerih payahnya, bukan malah diintervensi," kata Suratno.

”Ini kan lucu, kok seperti ini kebijakan negara?”

Dia menambahkan, dulu pemerintah berupaya menaikkan harga panen untuk menyejahterakan petani.

Namun, ketika harga tinggi dan petani mulai merasakan manfaatnya, mereka justru diminta untuk menurunkan harga.

​Menurut Suratno, jika pemerintah ingin menjaga stabilitas harga beras, seharusnya Bulog menggerakkan cadangan pangannya.

Dia yakin bahwa mengalirkan 3.000 juta ton cadangan pangan ke pasaran akan lebih efektif untuk menstabilkan harga beras, alih-alih memaksa petani menjual gabah dengan harga murah.

”Harga gabah biarkan saja naik. Jika harga beras di pasaran naik, Bulog bisa mengatasinya dengan menggelontorkan cadangan,” jelasnya.

​Suratno yakin para petani tidak akan mau menjual gabah dengan harga yang ditentukan dalam surat pernyataan. Sebab, masih ada penebas yang berani membeli dengan harga tinggi.

”Jika di penggilingan padi harga gabah hanya Rp 6.500, tapi ada yang mau beli Rp 6.800, petani pasti akan memilih harga yang lebih tinggi,” tandasnya. (din/adi)

Editor : Adi Pras
#panen #sragen #harga eceran tertinggi #het #gabah #Kontak Tani Nelayan Andalan