RADARSOLO.COM – Hari Literasi Internasional diperingati Senin (8/9/2025). Namun suasana Perpustakaan Kabupaten Sragen tampak tenang dan lengang.
Sekitar pukul 11.00 WIB, hanya terlihat kurang dari 10 pengunjung yang asyik membaca. Di balik ketenangan tersebut, ada tantangan besar yang dihadapi soal literasi.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Sragen Yusep Wahyudi mengungkapkan, ironi minimnya anggaran yang dialokasikan untuk pengadaan buku.
”Anggaran pengadaan buku di Sragen sangat kecil,” ujarnya.
Dia mengakui dalam setahun, hanya tersedia sekitar Rp 60 juta yang harus dibagi untuk menambah koleksi di tiga perpustakaan, yaitu di Sragen, Gondang, dan Gemolong.
Padahal, Perpustakaan Kabupaten Sragen memiliki koleksi hanya 75.000 buku yang tersebar di tiga perpustakaan dan satu unit mobil perpustakaan keliling.
Jumlah anggaran tersebut, kata Yusep, hanya cukup untuk pengadaan buku, belum termasuk biaya perawatan dan pemeliharaan koleksi yang ada.
”Sekarang buku juga semakin mahal, ya tambah mumet,” tambahnya.
Meskipun menghadapi keterbatasan anggaran, Perpustakaan Sragen tidak menyerah. Yusep menyebutkan adanya pengunjung setia yang datang setiap hari, meskipun jumlahnya hanya puluhan orang.
Angka kunjungan bisa melonjak saat ada kegiatan event khusus, seperti saat mengundang anak-anak TK.
”Biasanya anak-anak TK yang kita undang bisa sampai ratusan orang, sekalian guru dan orang tuanya,” jelas Yusep.
Untuk meningkatkan minat baca terutama di kalangan generasi muda, Perpustakaan Sragen berinovasi dengan memanfaatkan teknologi.
Mereka mulai menyediakan buku elektronik (E-book) yang bisa diakses dengan cara memindai kode QR. Langkah ini diharapkan bisa menarik perhatian anak-anak yang terbiasa dengan gawai, membuat mereka lebih cepat dan mudah mengakses koleksi. (din/adi)
Editor : Adi Pras