RADARSOLO.COM – Sejumlah wilayah di Sragen, tepatnya di utara Sungai Bengawan Solo sering jadi langganan kekeringan tiap musim kemarau tiba.
Menariknya, musim kemarau ini wilayah terdampak kekeringan berkurang. Sayangnya, angka kebakaran justru melonjak.
Data Bidang Pemadam Kebakaran (Damkar) Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sragen, hingga September terjadi 76 kasus kebakaran. Jumlah tersebut meningkat signifikan dalam dua bulan terakhir.
Sepanjang Januari-Juni, rata-rata kejadian kebakaran di bawah 10 kasus. Kemudian pada Juli-Agustus meningkat signifikan hingga 19-20 kasus.
“September ini belum terdata semua. Terutama kebakaran lahan kosong, itu kasusnya meningkat,” kata Kabid Damkar Satpol PP Sragen Tomi Isharyanto, Jumat (19/9/2025).
Tomy menambahkan, kasus kebakaran tertinggi menimpa lahan kosong, rumpun bambu, hingga lahan tebu. Penyebabnya didominasi kelalaian manusia.
“Jadi, masyarakat membakar sampah sembarangan. Belum dimatikan tapi sudah ditinggal pergi. Sehingga api membesar dan harus ditangani petugas damkar,” imbuh Tomi.
Diakui Tomi, petugas damkar sering menghadapi kendala dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Salah satunya suplai air untuk unit pemadam yang jauh dari lokasi kejadian.
“Terutama di sisi utara Sungai Bengawan Solo. Di sana mata air kan susah. Belum lagi kalau angin kencang, api lebih cepat membesar. Itu juga menjadi penghambat upaya pemadaman,” bebernya.
Di sisi lain, lanjut Tomi, kasus kebakaran hunian jumlahnya menurun. Dia berharap masyarakat selalu waspada akan bahaya kebakaran.
Solusinya, damkar rutin melakukan sosialisasi yang melibatkan camat, lurah, hingga relawan.
“Kuncinya jangan membakar sampah di kawasan permukiman. Kalau memasak, pastikan tungku atau kompor sudah padam sebelum ditinggal pergi. Selain itu, rutin cek instalasi kelistrikan di rumah masing-masing,” ujar Tomi.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen R. Triyono Putro membenarkan kasus karhutla cukup tinggi.
“Paling banyak lahan tebu dan rumpun bambu. Penanganan kebakaran lahan dibantu teman-teman damkar. Kami saling support,” jelasnya.
Sementara itu, krisis air bersih di sisi utara Bengawan kini mulai teratasi. Ditandai dengan menurunnya permintaan dropping bersih.
Sejak awal musim kemarau pada medio Agustus lalu, hingga kini baru ada permintaan 15 tangki dropping air bersih.
“Selain cuaca, bantuan sumur dalam dari Pemkab Sragen bisa mengurai dampak kekeringan di wilayah langganan kekeringan. Walaupun tidak semua sumur suplainya besar,” ujarnya.
Di tahun-tahun sebelumnya, periode Agustus-September, BPBD dropping air bersih hingga ratusan tangki. Kekeringan tersebar di puluhan desa di sejumlah kecamatan.
Triyono menjelaskan, musim ini hanya satu desa yang meminta bantuan dropping air bersih. Tepatnya Desa Galeh, Kecamatan Tangen. Bantuan menyasar RT 1, RT 5, dan RT 9.
“Kekeringan tahun ini memang berbeda karena kemarau basah. Di beberapa wilayah masing sering turun hujan,” kata Triyono. (din/fer)
Editor : Adi Pras