Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Hari Tani Nasional, HKTI Sragen Dorong Kebangkitan Kedelai Lokal

Ahmad Khairudin • Kamis, 25 September 2025 | 01:41 WIB
Peringatan Hari Tani Nasional (HTN) 2025 di Kabupaten Sragen, Rabu (24/9/2025). (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Peringatan Hari Tani Nasional (HTN) 2025 di Kabupaten Sragen, Rabu (24/9/2025). (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Hari Tani Nasional (HTN) seharusnya menjadi momen kebanggaan bagi Indonesia sebagai negara agraris.

Namun di balik keberhasilan swasembada beras, tersimpan ironi pahit soal kedelai yang masih jauh dari kata berdikari.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sragen Saiful Hidayat berharap gerakan swasembada tidak hanya berhenti pada beras.

Tetapi juga merambah pada komoditas lain yang sangat vital bagi ketahanan pangan, terutama kedelai.

Menurutnya, kedelai masih menjadi anak tiri dalam kebijakan pertanian nasional. Di saat petani padi telah menikmati hasil panen yang memuaskan berkat kebijakan pemerintah yang membatasi impor. Namun nasib komoditas kedelai justru berbanding terbalik.

Meskipun tahu dan tempe adalah makanan pokok yang menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat, ketergantungan pada kedelai impor mencapai angka yang sangat mencemaskan. Yakni sekitar 92,5 persen dari total kebutuhan nasional sebanyak lebih dari 3 juta ton.

Menurut Saiful, kondisi ini adalah suatu keprihatinan mendalam. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah kualitas kedelai impor yang dominan di pasaran.

”Kedelai impor yang kita konsumsi sekarang 92 persen itu adalah GMO, rekayasa genetika," ujarnya, Rabu (24/9/2025).

Dia membeberkan, fakta mengejutkan, kedelai yang dikirim dari Amerika Serikat, negara pengekspor terbesar bagi Tiongkok dan Indonesi sebenarnya adalah kedelai untuk pakan ternak. Untuk membuktikan perbedaan kualitasnya, Saiful memberikan contoh sederhana.

”Kalau dicek tahu tempe sekarang, digeletakke semut ndak mau. Tapi kalau kedelai lokal, semut mau," ujarnya.

Sebaliknya, kedelai lokal memiliki kualitas premium, non-GMO, dengan kandungan protein jauh lebih tinggi.

Kualitas inilah yang seharusnya menjadi kebanggaan dan prioritas. HKTI Sragen telah memiliki cetak biru (blue print) untuk menggenjot produksi kedelai lokal.

Saiful mencontohkan keberhasilan demplot di Kecamatan Sambirejo, Sragen, yang mampu menghasilkan 1,5 ton lebih per hektare dengan harga jual Rp 9.000 per kilogram, setara dengan keuntungan dari budidaya padi.

Sebagai langkah konkret, HKTI Sragen berencana menjalin kerja sama untuk penangkaran benih kedelai lokal berkualitas premium.

Dengan target produksi benih 1,5 hingga 1,8 ton per hektare, mereka optimis tahun depan Sambirejo dapat menanam 300 hektare kedelai dengan target produksi 1,5–2 ton per hektare.

Terpisah, Bupati Sragen Sigit Pamungkas saat perayaan hari tani mengajak para petani untuk tidak hanya mengingat perjuangan, tetapi juga mensyukuri kemakmuran yang saat ini dirasakan.

”Ini bagian dari memperingati hari tani. Sekaligus mensyukuri kemakmuran yang saat ini diperhatikan pemerintah, mulai dari pupuk yang terjangkau dan mudah didapatkan, serta harga yang bagus bagi petani," terangnya.

Bupati juga memberikan sinyal positif terkait komitmen pemerintah daerah terhadap kesejahteraan petani. Ketika ditanya mengenai rencana insentif bagi kelompok tani, dia memastikan bahwa penganggaran untuk itu sudah direncanakan.

"Insentif itu sudah, penganggaran itu dipastikan akan ada," tegasnya.

Sigit menjelaskan, pihaknya telah melakukan perhitungan dan simulasi. Dia menambahkan, insentif akan disesuaikan dengan perubahan anggaran dari pemerintah pusat. (din/adi)

 

Editor : Adi Pras
#kedelai #impor kedelai #Bupati Sragen Sigit Pamungkas #sragen #Hari Tani Nasional #himpunan kerukunan tani indonesia