RADARSOLO.COM – Ratusan relawan, potensi SAR dari Sragen dan Karanganyar personel badan penanggulangan bencana daerah (BPBD), TNI, serta Polri berkumpul di Waduk Botok, Kecamatan Kedawung, Sragen, Minggu (5/10/2025) pagi.
Selain menggelar aksi sosial membersihkan sampah dan pohon liar, mereka menggelar doa bersama secara untuk korban ambruknya pondok pesantren (ponpes) di Sidoarjo, Jawa Timur.
Aksi ini merupakan bentuk kepedulian ganda, yakni sebagai ungkapan duka cita sekaligus upaya nyata pencegahan bencana dan dukungan terhadap kelestarian lingkungan.
Kepala Pelaksana BPBD Sragen R. Triyono Putro menjelaskan, doa bersama merupakan ungkapan solidaritas atas musibah yang menimpa saudara sebangsa.
Usai khidmat berdoa, ratusan orang tersebut langsung turun ke Waduk Botok.
Mereka bergotong-royong membersihkan sampah dan memangkas tanaman liar yang tumbuh meninggi dan mulai menutupi permukaan dasar waduk.
Aksi ini bertujuan menjaga fungsi waduk peninggalan Belanda yang dibangun pada 1942 tersebut.
”Kegiatan ini diharapkan membuat kawasan Waduk Botok semakin indah, dan dapat menjadi destinasi wisata lokal di Sragen. Selain itu, ini tentu akan menumbuhkan perekonomian bagi warga sekitarnya,” ujar Triyono.
Waduk Botok yang memiliki luas 2.488 hektare ini memiliki fungsi vital sebagai penyimpan cadangan air untuk irigasi pertanian di wilayah sekitar.
Selain itu potensi lainnya sebagai tempat wisata alam.
”Aksi bersih-bersih ini juga merupakan bagian dari upaya mitigasi dini menghadapi musim penghujan,” imbuhnya.
Triyono mengingatkan bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim penghujan mayoritas terjadi antara November hingga Februari 2026.
BMKG juga telah mengimbau pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi curah hujan tinggi yang berisiko menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor.
Untuk itu, kegiatan pembersihan waduk dan pencegahan pohon liar menjadi krusial untuk memastikan saluran air dan tanggul tetap berfungsi optimal menjelang puncak musim hujan. (din/adi)
Editor : Adi Pras