Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Permainan Harga Bahan Baku Ancam Program MBG, HIMPI Sragen: Makelar Bermain

Ahmad Khairudin • Senin, 6 Oktober 2025 | 22:27 WIB
Siswa salah satu SD di Kabupaten Sragen menyantap menu makan bergizi gratis (MBG). (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Siswa salah satu SD di Kabupaten Sragen menyantap menu makan bergizi gratis (MBG). (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Sragen menyoroti potensi kebocoran dan permainan harga dalam pengadaan bahan baku program makan bergizi grartis (MBG).

Besarnya perputaran kebutuhan bahan pokok harian untuk dapur umum yang melayani MBG ribuan siswa menjadi celah bagi makelar untuk mencari keuntungan.

Ketua HIPMI Kabupaten Sragen ​Saifuddin mengungkapkan, dapur umum yang menopang sekitar 2.000 hingga 3.500 siswa setiap hari memiliki perputaran bahan baku yang sangat tinggi.

Jika satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) tidak jeli dalam memilih supplier, mereka berisiko bekerja sama dengan pihak yang mencari pasokan langsung dari petani.

”Di sinilah terjadi regulasi dari petani melalui tangan kedua ke MBG (Manajemen Bahan Gizi/Badan Usaha Pengelola Pangan). Nah, tangan kedua inilah yang kita bilang makelar,” tegas Saifuddin, Senin (6/10/2025).

Dia menyebut ​permainan harga oleh makelar ini disinyalir menjadi penyebab munculnya indikasi penyimpangan di lapangan.

Salah satunya adalah pengurangan porsi makan yang tidak sesuai dengan standar. Padahal, harga yang telah ditetapkan dari pusat adalah Rp 15 ribu per porsi.

”Mungkin saat ini berita muncul porsi makan dikurangi, tidak sesuai dengan standar, padahal harga dari pusat Rp 15 ribu, otomatis tidak sesuai dengan realita yang ada. Berarti ada apa di situ? Pasti ada pertanyaan besar,” imbuh Saifuddin.

​Padahal, standar harga dan gizi telah ditentukan oleh ahli gizi dari pusat. Menurut Saifuddin, standar harga Rp 15 ribu seharusnya sudah cukup untuk menentukan kelayakan gizi makanan.

Namun, fakta bahwa ada yang muncul tidak sesuai dengan standar menunjukkan adanya permainan di dalamnya yang harus segera diantisipasi.

​Untuk mengantisipasi praktik curang makelar ini, Saifuddin menekankan pentingnya standarisasi harga.

”Standarisasi harga MBG ini tidak boleh melebihi harga pasar. Ini yang perlu ditekankan,” katanya.

Dia juga menyoroti adanya beberapa MBG yang menerapkan sistem penyaluran melalui yayasan. Dalam skema ini, yayasan yang membayar supplier sebelum bahan baku masuk ke MBG.

”Ini untuk memutus mata rantai permainan harga di situ,” jelasnya.

Secara keseluruhan, program MBG dipandang sebagai langkah positif yang dapat meringankan beban ekonomi keluarga.

Di mana orang tua tidak perlu lagi memberi uang saku ke anak karena kebutuhan makan di sekolah telah terpenuhi.

Namun, keberhasilan program mulia ini terancam oleh ulah pihak-pihak yang mencari keuntungan pribadi dari pengadaan bahan baku. (din/adi)

Editor : Adi Pras
#SPPG #makelar #Mbg #sragen #Makan Bergizi Gratis #bahan baku