Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Gamelan di Rumdin Wabup Sragen Raib, Seniman Tradisional Kehilangan Ruang Ekspresi

Ahmad Khairudin • Kamis, 30 Oktober 2025 | 00:45 WIB
Sugiyanto alias Bagong, penabuh kendang legendaris peraih rekor MURI asal Sragen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Sugiyanto alias Bagong, penabuh kendang legendaris peraih rekor MURI asal Sragen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Hilangnya satu set gamelan dari pendapa rumah dinas wakil bupati Sragen membuat denyut kesenian tradisional di Bumi Sukowati terganggu.

Puluhan seniman karawitan kini kehilangan tempat berlatih, setelah perangkat gamelan yang selama ini digunakan mendadak raib tanpa jejak.

Kabar hilangnya gamelan itu membuat para pengrawit, sinden, hingga penabuh kendang gelisah. Ruang berkesenian yang dulu hidup di jantung kota Sragen kini sunyi.

“Banyak seniman datang ke sini mengeluh. Mau latihan tidak bisa, alatnya tidak ada. Dulu rutin latihan di pendapa wakil bupati, sekarang tidak tahu gamelannya ke mana,” ujar Sugiyanto alias Bagong, penabuh kendang legendaris peraih rekor MURI asal Sragen, Rabu (29/10/2025).

Mantan ketua Dewan Kesenian Daerah Sragen (DKDS) ini menuturkan, kegiatan latihan karawitan di pendopo rumah dinas wakil bupati dulunya berjalan tertib.

Para seniman secara bergiliran menggunakan fasilitas gamelan perunggu itu untuk menjaga tradisi dan regenerasi seni karawitan di daerah.

“Pada masa Pak Dedy (mantan Wabup Dedy Endriyatno) latihan masih berjalan baik. Tapi setelah itu, gamelan sudah tidak ada dan latihan pun berhenti,” jelasnya.

Ketiadaan gamelan bukan sekadar kehilangan alat musik, tapi juga hilangnya ruang ekspresi budaya.

Para seniman kini menaruh harapan besar agar gamelan tersebut dikembalikan ke tempat semula.

“Dengan bupati baru ini (Sigit Pamungkas), saya ingin menyampaikan langsung agar seniman Sragen punya ruang lagi untuk latihan. Kami hanya ingin tradisi tetap hidup,” tegas Bagong.

Kasus hilangnya gamelan itu juga menuai perhatian dari kalangan aktivis.

Agus Triyono, pegiat LSM Topan RI menilai kejadian tersebut mencurigakan karena gamelan merupakan aset milik pemerintah daerah.

“Kalau dalam seminggu tidak ada kejelasan di mana posisi gamelan itu, kami akan laporkan ke pihak berwajib,” tegasnya.

Agus menilai pemerintah daerah harus segera turun tangan menelusuri keberadaan gamelan itu.

Selain bernilai seni tinggi, perangkat gamelan tersebut juga simbol warisan budaya yang wajib dijaga.

Sampai berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi dari pihak Pemkab Sragen terkait hilangnya gamelan di rumah dinas wakil bupati.

Para seniman tradisi berharap langkah cepat dilakukan agar suara gong, kenong, dan saron kembali menggema di pendopo yang kini senyap.

“Yang kami harapkan sederhana saja, gamelan kembali, dan seni karawitan di Sragen bisa hidup lagi,” tutur Bagong. (din/bun)

Editor : Adi Pras
#Sigit Pamungkas #sragen #Dewan Kesenian Daerah Sragen #muri #gamelan #Wakil Bupati Sragen