Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Renovasi Sekolah Reyot di Sragen Terancam Ditunda, Efek Nyata Pangkas Anggaran TKD

Ahmad Khairudin • Minggu, 2 November 2025 | 22:37 WIB
Plafon salah satu ruang sekolah di Sragen ambrol. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Plafon salah satu ruang sekolah di Sragen ambrol. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Kebijakan pengurangan transfer ke daerah (TKD) oleh pemerintah pusat ternyata bisa berimbas signifikan pada sektor pendidikan di daerah.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sragen pun harus memutar otak melakukan efisiensi anggaran besar-besaran. Termasuk menunda renovasi sekolah reyot berdasarkan prioritas.

Kepala Disdikbud Prihantomo memastikan hal ini tidak akan mempengaruhi mutu pendidikan di wilayahnya. Prihantomo mengakui bahwa pengurangan anggaran ini pastinya akan berdampak.

”Pastilah terdampak kedepan tapi tetap harus berjalan mungkin dengan penyesuaian anggaran,” ujarnya.

Dia menegaskan sebagai layanan dasar, pendidikan harus tetap berjalan, tetapi penggunaan anggaran kini akan lebih diperketat dan dimaksimalkan. Salah satu pos anggaran yang menjadi sorotan efisiensi adalah renovasi sekolah.

Disdikbud Sragen kini akan mempertimbangkan kembali secara ketat kebutuhan rehab sekolah.

Pihaknya mempertimbangkan hanya sekolah yang dinilai lebih mendesak perbaikannya yang akan diprioritaskan. Jika bangunan masih dinilai cukup aman, perbaikan akan ditunda dahulu.

Selain renovasi fisik, efisiensi juga menyasar kegiatan nonfisik, seperti pendidikan dan pelatihan (diklat).

Prihantomo menyebut kegiatan ini berpotensi diefisiensi dengan memanfaatkan platform online, meminimalkan biaya perjalanan dan akomodasi.

Untuk menekan kebutuhan anggaran, khususnya terkait gaji dan tunjangan guru, Disdikbud Sragen membuka opsi regrouping (penggabungan sekolah).

Kebijakan ini dinilai sebagai cara yang mungkin mengefisiensi kebutuhan tenaga guru.

Namun, regrouping tidak akan dilakukan di semua sekolah. Fokusnya hanya pada sekolah-sekolah yang berdekatan dan memungkinkan untuk digabungkan.

”Misalnya jika dua sekolah dasar (SD) saat ini memerlukan total 12 guru, melalui regrouping, kebutuhan guru dapat diefisiensi menjadi enam orang. Sisa guru yang ada selanjutnya akan didistribusikan ke sekolah lain di Sragen yang masih kekurangan tenaga pengajar,” terangnya.

Meskipun menghadapi tantangan pengurangan anggaran akibat kebijakan pusat, Prihantomo optimistis melalui langkah-langkah efisiensi yang ketat dan strategis ini, Disdikbud Sragen akan mampu menjaga agar layanan dan mutu pendidikan tetap berjalan maksimal. (din/adi)

Editor : Adi Pras
#transfer ke daerah #regrouping #sragen #Disdikbud Sragen #diklat #renovasi sekolah