RADARSOLO.COM- Kabut yang menyelimuti kasus hilangnya seperangkat gamelan dari Pendapa Rumah Dinas Wakil Bupati Sragen kian terang.
Menyuul mantan Bupati Sragen Agus Fatchurrahman buka suara.
Kesaksiannya tidak hanya menjelaskan asal-usul gamelan tersebut.
Tetapi juga mengungkap alasan mengapa gamelan itu begitu melekat di rumdin padahal bukan aset Pemkab Sragen.
Agus Fatchurrahman membenarkan adanya perangkat gamelan di sana. Tapi dia mengklarifikasi bahwa aset tersebut bermula dari inisiatif non-pemerintah.
"Zaman awal jadi Wabup Sragen, Sanggar Seni Serambi Sukowati diberi hibah dari seseorang seperangkat gamelan untuk menunjang aktivitas sanggar," tutur Agus.
Saat itu sudah ada seperangkat gamelan lengkap di pendapa rumah dinas wabup Sragen.
Namun, seiring rampungnya revitalisasi pendapa rumah dinas wabup Sragen, perangkat gamelan yang menjadi fokus perhatian adalah gamelan perunggu yang tidak komplet—yang juga ada di sana.
"Selanjutnya setelah pendapa rumdin Wabup selesai pembangunannya, gamelan perunggu yang tidak komplet itu, bertahap saya lengkapi dan dibuatkan oleh Pak Tentrem (empu gamelan asal Solo, red)," jelasnya.
Merujuk data mantan ketua Dewan Kesenian Daerah Sragen (DKDS) Heru Agus Santoso, biaya yang dikeluarkan untuk melengkapi gamelan menghabiskan sekitar Rp30 juta.
Sejak saat itu, gamelan perunggu tersebut menjadi jantung kegiatan seni.
"Pada saat saya Wabup 10 tahun, di rumdin gamelan tersebut rutin dipakai untuk latihan karawitan dan mocopat," imbuhnya.
Baca Juga: Mobil Sedan Merah Terbakar di Jalan Dekat Kantor Kejari Wonogiri
Agus juga mengungkapkan alasan mengapa gamelan itu tidak pernah dipindahtangankan selama masa jabatannya. Dia khawatir alat musik tradisional itu hilang.
"Saya tidak pernah mengizinkan gamelan tersebut dipinjam/keluar dari rumdin wabup, karena khawatir hilang perangkatnya," tegasnya.
Ironisnya, kekhawatiran tersebut kini menjadi kenyataan.
Saat Agus menjadi bupati Sragen pada 2011, gamelan itu masih berada di rumah dinas wabup Sragen.
"Sebenarnya sudah diingatkan staf untuk membawa gamelan tersebut ke pendapa sanggar serambi. Saat itu saya jawab lain waktu saja dan sampai selesai jabatan tahun 2016," ungkap Agus.
Nah, setelah purnatugas sebagai bupati, Agus lupa akan keberadaan gamelan itu. Karena dinamika persoalan yang dihadapi.
Upaya melengkapi ini, menurut data sebelumnya dari mantan ketua Dewan Kesenian Daerah Sragen (DKDS) Heru Agus Santoso, menghabiskan sekitar Rp30 jutaan saat itu. (din)
Editor : Tri wahyu Cahyono