RADARSOLO.COM – Menjelang penyusunan anggaran 2026, Bupati Sragen Sigit Pamungkas membeberkan tantangan besar, yaitu pemotongan dana pusat sebesar Rp 258 miliar. Dia memastikan program-program untuk publik tidak boleh diganggu.
”Efisiensi hanya akan dilakukan pada biaya administratif seperti rapat, perjalanan dinas, ATK, dan makan-minum, sementara belanja modal dan infrastruktur tidak boleh dikurangi,” ujarnya saat peresmian kantor Gerakan Pembaharuan Sragen (GPS), Sabtu (15/11/2025).
Dia menjelaskan, kondisi saat ini di semua daerah seluruh Indonesia, dana dari pusat dipotong variatif.
”Sragen kena potongan di sekitar 24 persen,” ungkapnya.
Bupati juga menyambut baik peran GPS, yang sebagai harakah Al-Tajdid Sragen atau Gerakan Pembaharuan dengan prinsip oposisi loyal.
”Oposisi loyal. Berarti keberpihakan pada nilai, bukan pada orang. Kalau saya, Mbah Wakil, kok visinya itu lupa, itu diingatkan,” ujar Bupati Sigit.
Sigit menyampaikan terima kasih kepada GPS dan relawan lain atas perjuangan memenangkan pasangan Sigit–Suroto. Dia kemudian mengungkapkan strategi sederhana yang dia gunakan dalam pilkada.
”Kita pakai strategi 'ngluruk tanpa bala',” ujar Sigit.
Dia mengakui kemenangannya adalah dukungan seluruh masyarakat Sragen yang menginginkan perubahan.
”Bala saya adalah njenengan semua orang yang menginginkan perubahan di Kabupaten Sragen, itulah yang saya sebut sebagai bala. Tinggal membutuhkan komando untuk pasukan-pasukan ini dikoordinasikan, solid untuk bergerak,” tegasnya.
Sementara itu, Pembina GPS Tatag Prabawanto menggunakan metafora "Serigala" untuk mendefinisikan peran ideal GPS, sekaligus menyuarakan kecemasan mendalam agar GPS tidak diisi oleh orang-orang yang hanya memanfaatkan momentum.
Tatag menegaskan bahwa GPS harus menjadi "Serigala yang baik" yang memiliki komitmen positif bagi Kabupaten Sragen.
”Bukan Serigala yang dalam konotasi negatif, tapi bagaimana GPS menjadi Serigala yang memiliki komitmen untuk Kabupaten Sragen beserta jajaran pemerintahannya,” ujarnya. (din/adi)
Editor : Adi Pras