Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Petani Sragen Bimbang Tanam Kedelai Lokal: Impor Lebih Menggoda, Swasembada Pangan Terancam

Ahmad Khairudin • Selasa, 18 November 2025 | 02:19 WIB
Produsen tahu di Sragen masih ketergantungan dengan kedelai impor. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Produsen tahu di Sragen masih ketergantungan dengan kedelai impor. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Program swasembada pangan yang digeber pemerintah nasional. Termasuk untuk kurangi impor kedelai demi tercipta swasembada kedelai.

Namun kini masih terbentur tembok keras di lapangan. Di Kabupaten Sragen, para petani malah enggan menanam kedelai lokal.

Saat ini Pemerintah pusat memang gencar dorong optimalisasi lahan, bibit unggul, hingga alat pertanian modern.

Namun, tanpa atasi akar masalah, pasar yang lemah dan kualitas yang kalah, target swasembada kedelai bakal terus jadi angan-angan.

Salah satu alasannya, hasil panen sulit laku, kalah saing dengan kedelai impor yang lebih disukai perajin tahu-tempe.

Akibatnya, lahan pertanian lebih sering diisi padi atau palawija lain yang janjikan untung cepat.

Mukhtarul Havid, petani dari Desa Peleman, Kecamatan Gemolong, blak-blakan soal ini.

"Kedelai lokal harganya memang lebih murah, tapi gak laku. Tidak hanya tahu dan tempe, susu kedelai juga rata-rata pakai bahan impor," ujarnya, Senin (17/11/2025).

Menurut Havid, perajin lebih doyan kedelai impor karena rasa dan teksturnya jauh lebih enak. Stok kedelai lokal pun minim, hanya musiman saat panen tiba.

Sementara itu, petani seperti dirinya lebih pilih tanam padi yang harga jualnya lagi moncer. Saat ini sekitar Rp 6.500 per kg untuk gabah basah, bisa melonjak Rp8.000 per kg jika kering.

"Kalau disuruh tanam kedelai, ya pasti pikir-pikir dulu," katanya.

Tak cuma soal pasar, efisiensi waktu dan biaya sewa lahan yang melambung juga jadi pertimbangan utama.

"Padi atau kacang hijau, masa tanamnya lebih pasti, balik modal lebih cepat," tambah Havid.

Di sisi perajin, cerita serupa terlontar dari Suwolo, pembuat tahu rumahan di Kampung Teguhan, Kelurahan Sragen Wetan.

"Sekarang ini yang terbanyak pakai kedelai impor. Kedelai lokal cuma sekadar lewat, paling dua kresek (sekitar 1 kuintal) sudah habis," ceritanya di tengah hiruk-pikuk produksi.

Suwolo akui, kedelai lokal memang lebih enak rasanya. Tapi, produk tahunya cepat basi, hanya tahan dua hari, berbau amis.

Bandingkan dengan impor bisa awet sampai tiga hari, lebih kering, dan bisa disimpan berbulan-bulan tanpa jamur.

"Kedelai lokal seminggu saja sudah berjamur karena kurang kering," keluhnya.

Soal harga, impor sekitar Rp9.000 per kg, lokal lebih murah Rp8.300–Rp8.500. Tapi murah bukan jaminan.

Namun Suwolo sambut baik wacana swasembada, asal ada jaminan.

"Setuju kalau kedelai lokal diproduksi sendiri. Tapi jangan cuma murah, harus standar jelas, kualitas bagus, harga stabil," selorohnya. (din/adi)

Editor : Adi Pras
#kedelai #klaten #sragen #swasembada pangan #petani