Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sempat Jadi Desa Tertinggal di Sragen, Kaliwedi Masuk Nominasi IGA 2025

Ahmad Khairudin • Rabu, 19 November 2025 | 01:30 WIB
Penilaian Desa Kaliwedi di ajang Inovation Government Award (IGA) 2025. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Penilaian Desa Kaliwedi di ajang Inovation Government Award (IGA) 2025. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Desa Kaliwedi, Kecamatan Gondang, Sragen sukses mencuri perhatian nasional setelah dinobatkan sebagai Juara 1 Lomba Inovasi Ketahanan Pangan tingkat Nasional dari Kementerian Desa.

Prestasi ini terasa istimewa, mengingat Desa Kaliwedi merupakan desa yang sangat tertinggal sebelum 2013.

Kini, desa tersebut jadi salah satu unggulan Kabupaten Sragen dalam Inovation Government Award (IGA) 2025 untuk Kabupaten Sragen.

Kepala Desa Kaliwedi Daryono mengungkapkan, desa yang dipimpinnya sejak Desember 2013 ini telah mengikuti tiga ajang bergengsi.

Dua di antaranya inisiatif Desa Kaliwedi. Sedangkan satunya yakni IGA didaftarkan dari pemkab Sragen.

Alhasil Kaliwedi memperoleh Juara 1 Nasional Lomba Inovasi Ketahanan Pangan, yang menghasilkan hadiah sebesar Rp 50 juta dari Kemendes. Sedangkan lomba desa dari Kementerian Dalam Negeri tinggal menunggu hasil akhir.

Sedangkan lomba IGA, Desa Kaliwedi juga ditunjuk oleh Kabupaten Sragen untuk mengikuti Lomba Indeks Desa Membangun IGA dan tengah dipantau tim penilai.

Saat ditanya mengenai langkah yang dilakukan menjadi juara 1 nasional, Daryono menyoroti status Kaliwedi sebagai desa yang sangat tertinggal.

Kunci keberhasilan mereka adalah kerja tim yang solid antara pemerintah desa, BPD, dan seluruh elemen masyarakat.

”Sangat luar biasa, dengan intinya itu SDM yang minim, dengan anggaran yang kurang, Desa Kaliwedi mampu. Desa tertinggal mampu untuk menjadi desa yang mandiri,” ujar Daryono.

Resep menjadi Desa Mandiri menjadi magnet bagi desa-desa lain di Indonesia. Menurut Kades Daryono, setiap akhir tahun November dan Desember, banyak desa datang untuk melakukan study tiru (studi banding).

Kunjungan sudah terjadwal dari berbagai daerah, seperti Grobogan, Ngawi, hingga Magelang.

Meskipun karakteristik desa yang berkunjung berbeda-beda, 'resep' utama yang dibagi Kaliwedi sangat sederhana.

”BUMDes yang produktif. Jadi desa harus memiliki BUMDes yang punya unit-unit usaha yang benar-benar produktif, bukan sekadar formalitas,” ujarnya.

Kemudian harus ada inovasi. Fokus pada peningkatan pendapatan masyarakat melalui inovasi pertanian yang beraneka ragam.

Kaliwedi sendiri telah menjalankan sejumlah inovasi agrowisata yang produktif. Seperti inovasi melon, inovasi ayam petelur, inovasi klengkeng dan inovasi domba.

Meskipun saat ini hasil produksi mereka baru mencukupi kebutuhan masyarakat sekitar, Daryono memastikan bahwa program jangka panjang diarahkan untuk pengembangan lebih lanjut. Termasuk kemungkinan menjadi pemasok bagi Dapur MBG.

Tim Penilai Validasi Lapangan IGA Linda Restaningrum selaku Asisten Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK menjelaskan, kedatangannya untuk melakukan validasi lapangan (site visit).

Serta memeriksa sejauh mana implementasi inovasi yang telah disampaikan secara garis besar oleh Bupati Sragen dan jajarannya.

”Kami tim dari pusat, tim penilaian IGA, Innovative Government Award 2025, sengaja datang ke sini, Kabupaten Sragen, khususnya di Desa Kaliwedi ini karena Desa Kaliwedi ini salah satu yang diunggulkan dan diikutkan lomba inovasi,” ujarnya. (din/adi)

Editor : Adi Pras
#gondang #sragen #ketahanan pangan #Inovation Governmant Award #kementerian desa