RADARSOLO.COM – Peringati Hari Wayang Nasional 2025, Paguyuban Dalang Obah Nyawiji Noto Budoyo menggelar pagelaran akbar di kawasan cagar budaya Omah Londo, Kecamatan Gondang, Sabtu (22/11/2025) hingga Minggu (23/11/2025).
Tidak tanggung-tanggung, acara ini menjadi panggung kolaborasi bagi puluhan seniman lintas generasi.
Ketua Paguyuban Dalang Obah Nyawiji Noto Budoyo Agung Mangku Darsono menjelaskan, acara ini mengusung semangat untuk melestarikan wayang.
Konsep ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah upaya nguri-uri (melestarikan), ngurut (membina), dan ngrangkul (merangkul) para seniman untuk terus berkarya.
”Intinya kami ingin mengembangkan seni yang ada di Gondang. Alhamdulillah, di Gondang ini baru perdana dilaksanakan. Kami mohon doanya semoga semakin baik dalam nguri-uri budaya, khususnya wayang kulit,” ujar Agung di sela-sela acara, Minggu (23/11/2025).
Menariknya, jumlah dalang yang tampil ada 21 dalang muda. Mereka diiringi oleh 16 penabuh dan sinden. Agung menegaskan, fokus utama perhelatan ini adalah regenerasi.
”Gondang dikenal memiliki banyak potensi dalang bocah dan remaja. Melalui acara ini, kami berharap estafet kecintaan terhadap seni pedalangan dapat terus lestari di Kabupaten Sragen,” ujarnya.
Agung tidak menampik tantangan terbesar saat ini adalah gempuran teknologi. Anak-anak milenial lebih akrab dengan gadget dari pada gamelan.
”Tantangan sebagai seniman bagi anak-anak milenial ini tentunya banyak, mulai dari media sosial hingga hiburan modern. Di sini wayang menggunakan bahasa Jawa dan Kromo Inggil, sedangkan di daerah kita anak kecil sudah terbiasa berbahasa Indonesia. Ini kesulitan tersendiri bagi mereka untuk mengerti wayang,” ungkap Agung.
Untuk menjembatani hal tersebut, pemilihan lakon menjadi krusial. Kali ini, lakon yang diangkat adalah "Sumeni".
Pendekatan lakon cerita kontemporer dipilih berdekatan dengan momentum Hari Pahlawan. Tokoh Sumeni diharapkan menjadi representasi pahlawan wanita yang tangguh.
Ketua DPRD Sragen Suparno yang turut hadir di lokasi mengapresiasi kegiatan tersebut. Dia menekankan wayang yang telah diakui UNESCO, bukan sekadar tontonan, tetapi media komunikasi dan pendidikan moral.
”Ini sarana cerita masyarakat, media dakwah ala Sunan Kalijaga, serta ajang silaturahmi. Wayang memberikan pendidikan moral dan etika. Yang baik kita jalankan petuahnya, yang tidak baik dijadikan pelajaran,” tutur Suparno.
Dia mengaku bangga karena Gondang terbukti menjadi lumbung seniman dalang kondang.
”Munculnya generasi muda untuk melanjutkan seni ini menunjukkan bahwa dalam seni budaya, jati diri kita sebagai bangsa tidak lepas,” tegasnya.
Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jawa Tengah Untung Wiyono memberikan pujian atas inisiatif ini.
”Ini ide yang sangat brilian. Saya sangat mengapresiasi siapa saja yang punya ide acara hari ini. Sejak kecil saya senang wayang karena mengerti filosofinya, pelajaran baik dan buruk semua ada di sana,” tandas Untung. (din/adi)
Editor : Adi Pras