Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Petani di Tanon Sragen Ancam Tutup Saluran Air karena Sawahnya Sering Terendam

Ahmad Khairudin • Selasa, 25 November 2025 | 00:45 WIB
Petani Desa Jono, Kecamatan Tanon, Sragen membentangkan spanduk ancaman penutupan saluran air wilayah setempat, Senin (24/11/2025). (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Petani Desa Jono, Kecamatan Tanon, Sragen membentangkan spanduk ancaman penutupan saluran air wilayah setempat, Senin (24/11/2025). (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Polemik saluran irigasi memanas di Desa Jono, Kecamatan Tanon, Sragen.

Puluhan hektare sawah di desa tersebut mengalami gagal tanam hingga tiga kali akibat tergenang air berminggu-minggu. Kondisi ini dipicu tertutupnya saluran irigasi di perbatasan Desa Jono-Desa Gawan.

Para petani Desa Jono mendesak agar saluran menuju Desa Gawan segera dibuka agar air dapat mengalir lancar menuju Bengawan Solo.

Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, warga Jono mengancam akan menutup saluran masuk dari arah barat yang menuju desa Jono.

”Intinya warga petani Jono meminta saluran perbatasan Jono-Gawan dibuka. Jika tidak, kami terpaksa menutup saluran dari arah barat yang membawa air dari Desa Ketro, Karangwaru, dan Slogo masuk ke desa kami,” ujar perwakilan petani Desa Jono Sukardi,  Senin (24/11/2025).

Dia menjelaskan, selama ini, penutupan jalur air di Desa Gawan memang membuat lahan pertanian di wilayah Gawan menjadi lebih subur.

Namun, hal itu berdampak fatal bagi Desa Jono. Karena air berbalik dan menenggelamkan benih tanaman padi mereka.

”Jika Jono menutup saluran, wilayah Desa Karangwaru berpotensi besar ikut tergenang banjir,” ujar dia.

Kepala Desa Gawan, Sutrisno menegaskan, wilayah Gawan tidak bermaksud merugikan tetangga, melainkan turut menjadi korban banjir yang sama.

​Menurut Sutrisno, tudingan Gawan menutup total jalur air tidak sepenuhnya benar. Penutupan dilakukan pada percabangan saluran dari arah Plupuh-Karungan.

”Di sana ada pertigaan saluran, satu ke timur (Gawan) dan satu ke utara. Kalau yang ke timur kami buka, Gawan terkena dua hantaman aliran sekaligus. Akhirnya kami arahkan ke utara,” jelas Sutrisno.

​Dia memaparkan banjir yang menggenangi Dukuh Gondang Panjen (Jono) hingga wilayah Gawan disebabkan oleh debit air kiriman yang masif dari wilayah barat, meliputi Karangasem, Ketro, Slogo, Brumbung, dan Gabugan.

Air tersebut menumpuk di Jono dan Gawan karena aliran menuju Bengawan Solo tidak lancar.

Untuk mengurai benang kusut ini, Sutrisno menawarkan solusi teknis kepada pihak terkait, termasuk Pemkab Sragen.

Di antaranya air dari Brumbung dan Karangasem harus dipecah di wilayah Ngrayapan (Karangwaru) dan dimasukkan ke sungai kecil.

”Ini akan mengurangi beban air yang masuk ke Jono dan Gawan,” bebernya.

Selain itu pembuatan saluran baru di Jono. Lokasinya di sisi timur-selatan hingga jalan raya, lalu memecah arus ke utara menuju dukuh Kerokan. Langkah ini akan mengurangi genangan di Gondang Panjen sebelah barat.

Sementara itu, Anggota Komisi III DPRD Sragen Basuki mendesak bupati memerintahkan DPU segera turun ke sana melakukan survei.

”Karena kalau tidak segera ditangani pasti petani akan merasa dirugikan, karena ini mulai musim tanam,” ujarnya. (din/adi)

 

 

Editor : Adi Pras
#irigasi #sragen #tanon #saluran irigasi #petani #DPRD Sragen