Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Petani Desa Jono Makin Merana, Pemkab Sragen Lemparkan Masalah Sawah Tergenang ke Pemerintah Pusat

Ahmad Khairudin • Selasa, 9 Desember 2025 | 02:55 WIB
Kondisi persawahan Desa Jono, Kecamatan Tanon, Sragen yang terendam. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Kondisi persawahan Desa Jono, Kecamatan Tanon, Sragen yang terendam. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Harapan petani Desa Jono, Kecamatan Tanon, Sragen untuk segera mendapatkan solusi konkret pasca-kunjungan bupati tampaknya harus dikubur dalam-dalam.

Di tengah ancaman gagal tanam yang ketiga kalinya, petani justru dihadapkan pada kenyataan pahit.

Ternyata anggaran untuk pertanian dari dinas terkait belum bisa menolong para petani yang terdampak.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Sragen Eka Rini Mumpuni Titi Lestari mengungkapkan, persoalan fisik saluran air bukanlah ranahnya, melainkan kewenangan dinas pekerjaan umum (DPU).

Dia memastikan Pemkab Sragen tidak bisa menggelontorkan bantuan anggaran dari APBD saat ini.

”Kami data dulu soal yang terdampak. Namun bantuan dari kabupaten tidak ada karena ini akhir tahun anggaran,” tegas Eka Rini, Senin (8/12/2025).

Sebagai gantinya, DKPPP hanya bisa menawarkan janji administratif. Pihaknya akan melakukan inventarisasi data petani yang terdampak, khususnya yang sudah tiga kali gagal tanam

Kemudian diajukan permohonan bantuan benih ke pemerintah pusat. Petani harus menunggu proses birokrasi yang entah kapan cairnya.

”Kami coba minta bantuan benih ke pemerintah pusat,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Desa Gawan, Sutrisna bersikap keras menolak membuka saluran air dari Jono sebelum pemerintah melakukan normalisasi fisik.

Sutrisna menegaskan, ia tidak mau mengambil risiko menenggelamkan wilayahnya sendiri.

Menurutnya infrastruktur gorong-gorong dibuat terlebih dahulu. Jika membuka pintu air sama saja bunuh diri bagi Desa Gawan.

”Lha durung (belum,Red) dinormalisasi salurannya. Lha kalau tak buka, Gawan yang tenggelam,” ujar Sutrisna.

Dia mengajukan syarat mutlak, saluran harus dinormalisasi dan gorong-gorong penghubung ke arah Gentan Banaran kecamatan Plupuh juga dibuka terlebih dahulu. Jika infrastruktur itu siap, barulah ia bersedia membuka jalur air.

Sutrisna tidak menampik bahwa sikap kerasnya ini didasari ketakutan akan dampak sosial di desanya.

Jika ia nekat membuka saluran sekarang, air tidak hanya akan menggenangi sawah, tetapi berpotensi masuk ke pemukiman warga Gawan.

”Pokoke jika saluran yang ke timur dibuat gorong-gorong, baru saya buka. Daripada aku diumyek-umyek (dihakimi/diamuk) warga Gawan,” tandasnya. (din/adi)

Editor : Adi Pras
#DKPPP Sragen #sragen #tanon #sawah tergenang #DPU