Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Dua Arca Kuno Ditemukan di Sragen saat Pembongkaran Rumah, Salah Satunya Mirip Agastya

Ahmad Khairudin • Sabtu, 13 Desember 2025 | 02:20 WIB
Arca yang ditemukan di kampung Teguhan, Kelurahan Sragen Wetan, Kecamatan/Kabupaten Sragen, Jumat (12/12/2025). (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Arca yang ditemukan di kampung Teguhan, Kelurahan Sragen Wetan, Kecamatan/Kabupaten Sragen, Jumat (12/12/2025). (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Dua arca kuno yang diperkirakan berasal dari periode Hindu-Buddha antara abad ke-10 hingga ke-13 Masehi ditemukan di kawasan kampung Teguhan, Kelurahan Sragen Wetan, Kecamatan/Kabupaten Sragen, Jumat (12/12/2025).

Arca-arca tersebut ditemukan saat proses pembongkaran rumah warga.

Pantauan di lokasi penemuan, setidaknya ada tiga benda purbakala yang diangkat. Dua di antaranya adalah arca, sementara satu lainnya berupa benda yang diduga batu lumpang.

Selain itu, ditemukan pula teko keramik putih bermotif bunga, yang ditaksir berasal dari Jepang pada awal 1900-an.

Arca pertama setinggi 48 sentimeter dan lebar 26 sentimeter, terbuat dari batu berwarna hitam. Arca ini diidentifikasi sementara sebagai perwujudan Arca Agastya.

Arca kedua, dari batu berwarna putih, memiliki tinggi 43 sentimeter dan lebar 24,5 sentimeter, dan jenisnya belum teridentifikasi pasti.

Pamong Budaya Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen Anjarwati Sri Sayekti menjelaskan, korosi tinggi pada dua arca tersebut mempersulit identifikasi awal.

Namun, ciri-ciri pada arca batu hitam, adanya sandaran, bentuk menyerupai bulan di bagian kepala, serta perut yang buncit.

Tanda itu menguatkan dugaan sebagai perwujudan Dewa atau tokoh suci Agastya.

”Arca semacam ini biasanya diproduksi sejak masa Hindu-Buddha sekitar abad ke-10 M hingga ke-13 M dan digunakan untuk proses peribadatan,” kata Anjarwati.

Anjarwati menyoroti unsur pembentuk arca. Dua arca yang ditemukan terbuat dari jenis batuan yang umum ada di Sragen pada masa itu.

”Batu putih biasanya digunakan untuk arca-arca di utara Bengawan Solo, sementara batu hitam di selatan Bengawan Solo. Korositas yang tinggi juga mengindikasikan batu lokal. Jika berasal dari luar Sragen, terutama kawasan Kota Praja masa lalu, kualitas batuan yang digunakan cenderung lebih tinggi,” jelasnya.

Penemuan dua arca di satu lokasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai asal-usulnya. Arca peribadatan, seringkali berpasangan dan dipasang di empat arah mata angin pada sebuah candi.

”Bisa jadi, arca ini berasal dari suatu candi, kemudian dibawa oleh pemiliknya ke rumah, dan hari ini ditemukan kembali,” tandasnya.

Dia menambahkan perlunya penelitian lebih lanjut untuk menelaah kembali Arca tersebut.

Sementara, salah satu penemu arca dan pemilik rumah di Teguhan Priyanto membenarkan arca tersebut ditemukan oleh saudaranya saat rumah keluarga hendak dibangun ulang.

Priyanto menduga temuan itu adalah peninggalan leluhurnya yang beragama Buddha dan digunakan untuk peribadatan pribadi.

”Setelah ini, harapannya bisa disimpan oleh keluarga sendiri saja,” tutup Priyanto. (din/adi)

Editor : Adi Pras
#Disdikbud #bengawan solo #arca kuno #sragen