RADARSOLO.COM – Kekerasan di lingkungan pendidikan Sragen kian semrawut. Belum kering luka trauma siswa di SDN Ngepringan 3 Jenar, tabir perundungan di tingkat menengah atas kini tersingkap.
Di SMA N 1 Sumberlawang, perundungan verbal yang sering kali dianggap "bumbu" pertemanan ternyata menjadi penicu yang siap meledak menjadi bentrokan fisik.
Nareza Yusuf, 16, siswa kelas 11 di SMA tersebut, memotret realitas pahit di sekolahnya.
Menurutnya, aksi memanggil nama orang tua masih dianggap sebagai lelucon lumrah, padahal itu adalah pintu masuk menuju intimidasi yang lebih dalam.
”Masih sering terjadi. Menganggap bercanda, padahal itu termasuk bullying ringan,” ujar Nareza.
Ketidaktahuan siswa akan batasan antara candaan dan hinaan menjadi akar masalah yang tak kunjung tercabut.
Kepala SMA N 1 Sumberlawang Bekti Ratna Timur Astuti tidak menampik kondisi ini. Ia mengakui bahwa tradisi ejek-ejekan tersebut kerap berujung pada kontak fisik.
”Sempat kemarin ada ejek-ejekan, tapi karena emosi sampai dorong-dorongan. Kami sudah berusaha mendamaikan,” kata Bekti.
Pihaknya menyoroti dampak psikis yang sering luput dari mata pelaku. Akibatnya, rasa rendah diri yang menghancurkan mental korban.
Sementara itu, Sekretaris Disdikbud Sragen, Sukisno mengaku sudah mengecek insiden yang dilaporkan orang tua korban sebagai aksi pengeroyokan oleh sebelas anak.
Setelah melakukan kroscek, Sukisno mengklaim insiden di sekolah dasar tersebut belum masuk taraf perundungan serius.
”Saya cek anaknya sudah kembali main bareng lagi,” dalihnya.
Menurutnya, psikologi anak kelas 2 SD berbeda dengan siswa SMP atau SMA yang kecenderungan membentuk geng.
Meski begitu, Sukisno tetap mewanti-wanti sekolah agar lebih terbuka berkomunikasi dengan orang tua dan tidak membiarkan pengawasan kendur. (din/adi)
Editor : Adi Pras