RADARSOLO.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sragen akhirnya buka suara terkait kabar serangan wabah Chikungunya yang melanda Dukuh Nyawun, Desa Pagak, Sumberlawang.
Berbeda dengan klaim warga yang menyebut angka penderita mencapai 100 orang, DKK menyatakan kasus yang terverifikasi secara medis jauh lebih sedikit.
Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Sragen dr. Sri Subekti, mengungkapkan bahwa Puskesmas Sumberlawang sebenarnya telah lama melakukan tindak lanjut, termasuk menggelar pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pengasapan (fogging).
Terkait simpang siur jumlah warga yang lumpuh akibat virus tersebut, dr. Sri Subekti menegaskan bahwa tidak semua warga yang mengalami demam bisa dikategorikan sebagai penderita Chikungunya.
”Data resminya tidak sampai 10 kasus yang benar-benar Chikungunya. Masyarakat seringkali menganggap setiap ada panas itu Chikungunya, padahal bisa saja batuk pilek atau greges biasa. Jadi, tidak sebanyak yang diberitakan (100 orang),” jelas dr. Sri Subekti saat dikonfirmasi, Jumat (19/12/2025).
Meski demikian, pihak dinkes mengakui bahwa lokasi di RT 06 dan RT 07 memang berada di titik rawan karena berdekatan langsung dengan Embung Nyawun yang kondisinya kotor.
Pihak Dinkes Sragen juga membenarkan keresahan warga soal dampak limbah pabrik pemotongan unggas yang mencemari embung.
Namun, Sri menekankan bahwa urusan pencemaran tersebut bukan lagi ranah kesehatan, melainkan masalah lingkungan hidup.
”Itu sebenarnya permasalahan dampak pabrik potong unggas. Embungnya jadi kotor, banyak genangan air, dan tertutup gulma atau rumput liar. Lingkungan yang kotor itulah yang menjadi sarang nyamuk,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan saat pembangunan pabrik tersebut dilakukan, masyarakat sekitar sebenarnya sudah menyatakan persetujuan. Kini, dampak lingkungan yang timbul justru menjadi bumerang bagi kesehatan warga.
Terkait efektivitas pencegahan, dinkes menengarai adanya andil kelalaian warga dalam menjaga kebersihan lingkungan rumah masing-masing.
Kegiatan PSN yang dilakukan bersama pemerintah desa dianggap sebagai kunci utama, namun hasilnya masih menunggu laporan lapangan.
”Bisa jadi masyarakat sendiri juga kurang (menjaga kebersihan). Lingkungan yang tertutup rumput dan gulma sangat mendukung perkembangan nyamuk,” tandasnya.
Dengan adanya pernyataan ini, tanggung jawab kini bergeser pada bagaimana koordinasi antara pemerintah desa, dinas lingkungan hidup (DLH) dan pengelola pabrik untuk melakukan normalisasi embung, guna memutus rantai habitat nyamuk yang menghantui warga Dukuh Nyawun. (din/adi)
Editor : Adi Pras