RADARSOLO.COM- Fakta sosiologis terungkap di tengah perselisihan antara pengelola dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan pemilik kandang babi di Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Sragen.
Lahan yang kini menjadi pusat operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut ternyata berdiri di atas wilayah yang sejak lama dikenal warga sebagai "Baben" atau sentra peternakan babi.
Informasi ini membuka tabir bahwa keberadaan peternakan babi di lokasi tersebut bukanlah aktivitas baru.
Melainkan warisan ekonomi warga yang sudah mengakar jauh sebelum program nasional tersebut dicanangkan.
Sentra Peternakan Babi yang Turun-temurun
Sutarno, ketua RT 41 Desa Banaran mengungkapkan, identitas wilayah tersebut sebagai pusat ternak babi sudah ada sejak puluhan tahun silam.
Sebagian besar lahan di lingkungan tersebut merupakan bekas kandang-kandang babi di masa lalu.
"Sebelum saya lahir, peternakan babi itu sudah ada. Dulu ini sentra babi atau Baben. Warga sini sangat paham dan tidak pernah ada masalah," ujar Sutarno.
Bagi keluarga Angga Wiyana Mahardika, pemilik kandang yang kini bersengketa dengan pengelola SPPG Banaran, usaha peternakan berkapasitas 30 ekor babi tersebut adalah tumpuan ekonomi utama setelah usaha bengkelnya lesu.
Keberadaan kandang ini dipandang warga bukan sebagai gangguan, melainkan bagian dari denyut nadi ekonomi lokal yang legal dan historis.
Klarifikasi Isu Pencemaran dan Respons Sosial
Menanggapi tudingan pencemaran lingkungan yang sempat dilontarkan pengelola dapur MBG, Sutarno memberikan pandangan objektif dari sisi warga.
Baca Juga: Kapolres Wonogiri AKBP Wahyu Sulistyo Terima Penghargaan dari Presiden, Ini Prestasinya
Masalah air yang meluber di saluran irigasi sempat terjadi karena mampet, bukan kesengajaan pembuangan limbah.
Petani setempat mengakui jika air seni babi yang mengenai tanaman membuat tanaman kurang subur (ora lemu).
Namun selama puluhan tahun hal tersebut diselesaikan secara kekeluargaan.
"Petani di sini tidak ada yang mengeluh sampai ribut. Mereka tahu sama-sama sedang mencari makan," tegas Sutarno.
Sementara itu, gelombang dukungan terhadap peternak babi justru mengalir deras di media sosial.
Banyak pihak menilai pihak pengelola dapur MBG teledor dalam melakukan survei lokasi (feasibility study).
Membangun dapur pangan steril di dekat lokasi peternakan yang sudah eksis puluhan tahun dianggap sebagai langkah yang memaksakan keadaan.
Berujung memicu konflik kepentingan antara program pemerintah dan penghidupan rakyat kecil.
Hingga saat ini, publik masih menunggu langkah moderasi dari Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mencari solusi yang adil bagi kedua belah pihak tanpa harus mengorbankan salah satunya. (din)
Editor : Tri wahyu Cahyono