RADARSOLO.COM – Keresahan menyelimuti petani di Desa Toyogo, Kecamatan Sambungmacan, Sragen dalam beberapa hari terakhir. Di tengah penantian menyambut panen raya, aksi pencurian padi justru marak terjadi.
Aksi pencurian padi di sawah bukan hal baru di Sragen timur. Tahun lalu pernah ada kejadian serupa. Lantas baru-baru ini kembali terjadi di Desa Toyogo.
Kapolsek Sambungmacan AKP Warseno mengonfirmasi bahwa pihaknya telah terjun ke lapangan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Berdasarkan pantauan di lokasi, pelaku menyasar lahan yang lokasinya jauh dari pemukiman warga atau minim pengawasan.
"Padi yang diambil sebenarnya masih hijau, sekitar sepuluh hari lagi baru layak panen. Kami belum mengetahui motif pasti mengapa padi muda itu tetap diambil," ujar Warseno saat ditemui di markas Polres Sragen, Kamis (29/1/2026).
Meski jumlah kerugian material dalam setiap aksi tergolong kecil, rata-rata sekitar dua kantong. Namun frekuensi kejadian ini cukup mengganggu ketenangan warga.
Aksi ini disinyalir dilakukan pada malam hari untuk menghindari pantauan patroli maupun pemilik lahan.
Rupanya, tren pencurian ini tidak hanya terjadi di Toyogo. Kabar serupa juga muncul dari wilayah tetangga, yakni Desa Karanganyar, Kecamatan Sambungmacan.
Menanggapi fenomena ini, Polsek Sambungmacan langsung tancap gas berkoordinasi dengan lintas sektor (linsek), mulai dari camat, babinsa, hingga perangkat desa.
"Kami masifkan imbauan lewat media sosial, grup WhatsApp, hingga penyampaian lisan ke warga. Pengawasan keamanan mandiri harus ditingkatkan menjelang panen raya ini," tegas Warseno.
Selain ancaman pencurian fisik di sawah, Warseno juga mewanti-wanti para petani agar tidak terjebak tipu daya oknum pengepul atau pemborong nakal.
Baca Juga: Resmikan Mako Damkar Baru, Bupati Klaten: Damkar Itu Pasukan Elit yang Luar Biasa
Ia menyebut ada modus di mana pelaku membawa kabur hasil panen dengan alasan mengambil uang di ATM, namun tak kunjung kembali.
"Sudah kami koordinasikan dengan Muspika agar pesan ini sampai ke tingkat bawah. Baik petani kecil maupun yang memiliki lahan di atas dua hektare, semua harus ekstra waspada," tandasnya. (din/adi)
Editor : Adi Pras