Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sambirejo Sragen Siaga Longsor, 10 Rumah di Tiga Dukuh Terancam Amblas Akibat Tanah Gerak

Ahmad Khairudin • Rabu, 4 Februari 2026 | 12:50 WIB
Fenomena tanah gerak di Desa Sambi, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Fenomena tanah gerak di Desa Sambi, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Kecemasan nampak jelas di wajah Suroso. Di usianya yang menginjak 72 tahun, warga Bendorejo, RT 33, Desa Sambi, Kecamatan Sambirejo, Sragen ini dibayangi kekhawatiran rumahnya yang terancam longsor.

Sejak tahun 2000, hidup Suroso bak pengembara. Ia sudah tiga kali berpindah posisi rumah.

Semuanya hancur karena pergerakan tanah. Kejadian terbaru menimpanya dua pekan lalu. Rumah ketiga yang ia bangun dengan susah payah kembali amblas.

”Kejadiannya malam hari. Tiba-tiba mak krosak, ambrol. Untungnya saat itu saya tidak di kamar, posisi lagi di belakang,” kenang pria kelahiran 1953 tersebut saat ditemui, Rabu (4/2/2026).

​Meski dihantui rasa waswas, Suroso tak punya banyak pilihan. Kini ia menempati rumah adiknya yang kosong karena ditinggal merantau ke luar Jawa.

Baginya, angkat kaki dari tanah almarhum orang tuanya itu bukanlah perkara mudah. Apalagi, kerugian materiil yang dideritanya sejak awal mencapai Rp 60-an juta.

”Tetap bertahan di sini. Habis bagaimana lagi, sudah tidak punya tempat tinggal lain," keluhnya.

​Kepala Desa Sambi Kresna Widya Permana menjelaskan, fenomena ini bukan hanya menimpa Suroso.

Berdasarkan pemetaan desa, ada tiga dukuh yang masuk zona merah pergerakan tanah. Di RT 37 Tawangsari terdapat 6 rumah terdampak, di Bendorejo 1 rumah, dan di Dukuh Wonorejo ada 3 rumah.

”Kondisi di Tawangsari dan Bendorejo ada yang sudah sangat parah hingga tidak bisa ditinggali. Saat ini sudah ada warga yang mengungsi ke rumah kerabat," terang Kresna.

​Kresna menambahkan, pihak BPBD Sragen sebenarnya sudah melakukan assessment sejak laporan pertama muncul di bulan September 2025 lalu.

Namun, karena kerusakan di bulan Januari ini jauh lebih masif. Tim dari Badan Geologi pun diterjunkan ke lapangan, Rabu (4/2/2026) untuk melakukan investigasi mendalam.

​Sambil menunggu rekomendasi teknis dari Badan Geologi, pihak desa kini menerapkan status siaga.

Patroli lapangan rutin dilakukan setiap kali hujan lebat mengguyur. Komunikasi dengan para Ketua RT diperketat guna memastikan keselamatan warga.

”Jangka pendeknya, kami imbau warga segera mengamankan diri jika hujan lebat turun. Nomor-nomor darurat sudah kami sebar agar koordinasi bisa cepat jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," tegasnya.

​Kini, warga Desa Sambi hanya bisa menunggu hasil investigasi geologi. Berharap ada solusi permanen agar mereka tak perlu lagi merasa was-was setiap kali langit Sambirejo mulai mendung. (din/adi)

Editor : Adi Pras
#badan geologi #BPBD Sragen #sragen #sambirejo #tanah gerak #longsor