RADARSOLO.COM – Teka-teki mengenai fenomena tanah gerak yang menghantui warga Desa Sambi, Kecamatan Sambirejo, Sragen akhirnya terjawab.
Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan apa yang dialami Suroso dan warga lainnya bukanlah longsor mendadak, melainkan sebuah ancaman sunyi bernama rayapan.
Tim yang dipimpin oleh Yudi Wahyudi selaku Penyelidik Bumi Ahli Madya, menyisir tiga dukuh terdampak. Yakni di Tawangsari, Bendorejo, dan Wonorejo. Hasilnya mengonfirmasi kekhawatiran selama ini.
Yudi menjelaskan, tipe gerakan tanah di Sambirejo memiliki pola yang identik. Retakan-retakan tanah yang membentuk pola tapal kuda dan terasering adalah ciri khas tipe gerakan lambat atau rayapan.
”Secara risiko, tipe ini memang tidak terlalu membahayakan karena sifatnya bertahap. Tapi bagi infrastruktur, ini mematikan,” tegas Yudi saat ditemui awak media di sela peninjauan lokasi.
Data di lapangan menunjukkan dampak kerusakan yang masif. Mulai dari jembatan di tengah area gerakan yang bergeser hingga rumah-rumah warga yang retak.
Sifatnya yang "merambat" membuat bangunan permanen tidak berdaya menahan tekanan tanah.
Badan Geologi memetakan tiga faktor utama yang saling berkaitan. Di antaranya morfologi kemiringan lereng yang curam menjadi gravitasi alami bagi pergerakan tanah. Kemudian batuan lempung pada Lapisan bawah tanah.
Kawasan itu didominasi material lempung. Sifat lempung sangat rapuh. Lempung akan mengembang dan menjadi pelicin saat jenuh air.
Ditambah lagi beban bangunan di atas. Ironisnya, rumah-rumah warga yang kini rata-rata berupa bangunan beton megah. Hal itu justru mempercepat pergerakan.
Beban beton yang berat memberikan tekanan ekstra pada tanah lempung yang sedang tidak stabil.
”Bukan lagi soal potensi longsor, ini sudah terjadi. Dan secara historis, pergerakan ini sudah tercatat sejak 1993. Jadi, ini adalah ancaman yang berulang setiap kali musim penghujan tiba,” tambah Yudi.
Badan Geologi memberikan rekomendasi yang menantang modernitas. Bagi rumah yang sudah hancur, warga sangat tidak disarankan membangun kembali dengan material beton.
Yudi justru menyarankan warga kembali ke gaya bangunan nenek moyang: Rumah Panggung Kayu.
”Kalau rumah kayu, saat tanah miring, bangunan tinggal diluruskan kembali. Tapi kalau cor beton, geser 2-3 sentimeter saja struktur langsung hancur dan tidak layak huni," jelasnya.
Selain arsitektur, penataan drainase menjadi harga mati. Saat ini, pola buangan air hujan dan drainase jalan di tiga dukuh tersebut masih terbuka dan tidak tertata.
Hal inilah yang membuat tanah lempung di bawahnya cepat jenuh air dan mulai "berjalan". (din/adi)
Editor : Adi Pras