RADARSOLO.COM-Di bulan Ramadhan, menu makan bergizi gratis (MBG) tetap dibagikan. Termasuk di Sragen.
Namun, muncul beragam keluhan masyarakat. Mulai dari variasi menu "kering" yang dinilai membosankan,'
Hingga menu telur rebus dan buah-buahan yang masih mentah saat dibawa pulang oleh siswa.
Dilema "Menu Kering" dan Keterbatasan Anggaran
Budiono Rahmadi, salah satu mitra penyedia tempat (dapur) MBG, tidak menampik adanya kendala teknis di lapangan.
Menurutnya, transisi dari makanan siap saji (makan di sekolah) menjadi paket "menu kering" untuk dibawa pulang berbuka puasa membawa kerumitan tersendiri.
"Memang menu kering itu agak merepotkan untuk disusun. Tim di dapur, mulai dari ahli gizi hingga bagian akuntansi, harus memutar otak lebih keras karena pilihannya sangat terbatas. Paling hanya berkisar roti dan buah," ungkap Budiono, Selasa (24/2/2026).
Persoalan ini semakin pelik karena ruang gerak finansial yang sangat terbatas.
Budiono membeberkan patokan anggaran MBG saat ini:
- Porsi Anak-anak: Rp 8.000 per paket.
- Porsi Dewasa: Rp 10.000 per paket.
"Dengan nominal tersebut, pilihannya ya itu-itu saja. Intinya, kreativitas tim penyusun menu sedang diuji habis-habisan untuk mengatasi kejenuhan wali murid," imbuhnya.
Akar Masalah: Skala Raksasa vs Kapasitas UMKM
Terkait viralnya temuan telur dan buah yang belum matang, Budiono memberikan penjelasan logis yang sekaligus menjadi kritik terhadap sistem pengadaan saat ini.
Masalah utamanya terletak pada instruksi pusat yang mewajibkan pelibatan UMKM lokal, sementara kapasitas infrastruktur mereka belum memadai untuk pesanan skala raksasa.
Berikut adalah beberapa kendala logistik yang dihadapi dapur MBG:
- Proses Pematangan Buah : Pengadaan buah seperti pisang atau alpukat dalam jumlah ribuan porsi tidak bisa dilakukan mendadak.
"Kalau mau matang serentak, pesannya harus tiga hari sebelumnya untuk proses imbu (pemeraman). Kalau mendadak, pasti ada yang mentah," jelas Budiono.
- Keterbatasan Alat Olah: Banyak UMKM yang kewalahan dan alatnya tidak mumpuni jika harus mengolah bahan baku, seperti daging ayam atau telur, dalam skala kuintalan setiap harinya.
- Larangan Pabrikasi Besar: Di sisi lain, pengelola dapur tidak disarankan mengambil pasokan langsung dari pabrik atau industri besar demi memberdayakan ekonomi warga sekitar.
Harus Main Aman
Menyikapi problematika ini, Budiono menyarankan agar seluruh pengelola dapur MBG lebih berhati-hati dalam memilih jenis protein dan buah selama bulan puasa.
Ia mendorong peningkatan porsi makanan yang minim risiko basi atau gagal matang, seperti susu.
"Ini bukan makanan siap saji yang langsung dimakan di tempat, melainkan dibawa pulang untuk buka puasa. Perlu kehati-hatian ekstra, istilahnya harus 'main aman' agar kualitas makanan tetap terjaga sampai ke tangan siswa," pungkasnya. (din)
Editor : Tri wahyu Cahyono