RADARSOLO.COM – Pemerintah Kabupaten Sragen mulai tancap gas melakukan evaluasi dan persiapan penilaian Kabupaten Layak Anak (KLA) untuk tahun 2026.
Sragen mencoba untuk mempertahankan menjadi dua kali berturut-turut berhasil menyabet predikat 'Utama'.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen Hargiyanto menegaskan, proses evaluasi telah dimulai sejak 18 Februari lalu.
Menurutnya, langkah ini sangat krusial mengingat Sragen merupakan salah satu dari sedikit daerah di Jawa Tengah, selain Kota Semarang, yang mampu meraih predikat Utama.
”Harapan kita adalah mempertahankan predikat Utama dan harapan kita menuju ke Paripurna. Strateginya, semua indikator harus kita penuhi dengan sebaik-baiknya lebih awal melalui rapat koordinasi ini," ujar Hargiyanto saat ditemui di sela-sela kegiatan rakor Rabu (25/2/2026).
Ketua Gugus Tugas KLA Sragen Dwiyanto menjelaskan, tantangan utama dalam penilaian tahun ini adalah optimalisasi data dukung di lima klaster dan tujuh indikator KLA.
Pihaknya menargetkan seluruh dokumen pendukung sudah siap secara lengkap pada 30 Maret mendatang.
Dwiyanto mengungkapkan, berdasarkan evaluasi tahun lalu, masih ditemukan beberapa indikator yang mendapatkan nilai nol karena ketidaklengkapan administrasi.
Sedangkan dalam pembahasan rakor, salah satu yang menjadi sorotan adalah regulasi mengenai rute aman ke sekolah.
”Ada indikator yang tahun lalu nilainya nol, seperti aturan rute sekolah yang aman. Namun, tahun ini sudah kita koordinasikan dengan Dinas Perhubungan (Dishub) dan peraturannya sudah ada. Jadi, kekurangan tahun lalu akan kita tutupi tahun ini," jelas Dwiyanto.
Pemerintah Kabupaten Sragen juga melakukan evaluasi ketat terhadap perbedaan nilai antara self-assessment (penilaian mandiri) dengan hasil Verifikasi Administrasi (VA) oleh pusat. Tahun lalu, nilai VA Sragen tercatat sebesar 836,16 dari total potensi poin di angka 900-an.
Dwiyanto menekankan agar organisasi perangkat daerah (OPD) tidak hanya sekadar mengklaim keberadaan program, tetapi harus menyertakan bukti fisik yang valid.
"Untuk tahun ini, target nilai self-assessment diharapkan bisa menembus angka 1.000, dengan harapan nilai verifikasi akhir minimal menyamai atau melebihi pencapaian tahun sebelumnya," ujar dia.
Terkait isu nasional seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Dwiyanto menyebutkan bahwa meskipun indikator penilaian masih menggunakan skema tahun lalu, program tersebut kemungkinan besar akan diintegrasikan ke dalam indikator Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) sebagai bagian dari pemenuhan gizi anak.
Dengan persiapan yang lebih awal dan koordinasi lintas sektor yang solid, Pemkab Sragen optimis dapat mempertahankan posisinya sebagai kabupaten terdepan dalam perlindungan dan pemenuhan hak anak di Jawa Tengah. (din/adi)
Editor : Adi Pras