RADARSOLO.COM – Hall Sibara Polres Sragen mendadak riuh oleh tawa dan obrolan hangat, Rabu sore (25/2/2026). Tak ada sekat antara seragam cokelat dan kartu pers.
Di bawah temaram lampu aula, Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari duduk melingkar, merajut harmoni bersama puluhan jurnalis dan anak yatim dalam bingkai Ramadan 1447 Hijriah.
Momen ini bukan sekadar buka puasa biasa. Agenda tersebut sekaligus menjadi kado manis bagi insan pers Bumi Sukowati yang tengah merayakan Hari Pers Nasional (HPN) ke-80.
Suasana syahdu mulai terasa sejak pukul 17.00 WIB. Kapolres didampingi Wakapolres Kompol Nunung Farmadi tampak telaten menyapa satu per satu tamu undangan.
Baginya, media bukan sekadar peliput berita. Melainkan "jembatan" krusial yang menghubungkan institusi Polri dengan denyut nadi masyarakat.
”Media adalah mitra strategis. Ramadan ini menjadi momentum emas untuk memperkuat rasa saling percaya, apalagi tantangan ke depan tidak ringan,” ujar AKBP Dewiana dalam sambutannya.
Srikandi Korps Bhayangkara ini juga menyelipkan pesan penting terkait Operasi Ketupat yang sudah di depan mata.
Ia berharap, pena para jurnalis mampu mengedukasi masyarakat agar arus mudik dan balik Idulfitri nanti berjalan tenang dan kondusif.
”Kesuksesan pengamanan itu bukan hanya soal personel di lapangan, tapi juga soal narasi yang menyejukkan dari rekan-rekan media,” tambahnya.
Puncak emosional acara pecah saat 20 anak yatim maju ke depan. Tak sekadar memberikan santunan, jajaran Polres Sragen tampak berbincang akrab dengan mereka.
Selain itu memberikan semangat di tengah bulan suci. Senyum malu-malu para bocah tersebut seolah menjadi oase di tengah padatnya agenda kepolisian.
Sebagai simbol rasa syukur di usia HPN yang ke-80, prosesi pemotongan tumpeng pun dilakukan. Potongan tumpeng pertama diserahkan kepada perwakilan wartawan sebagai simbol kemitraan yang kian matang.
Anindito, salah satu jurnalis senior yang hadir mengaku terkesan dengan keterbukaan Polres Sragen selama ini.
”Komunikasi kami cair. Sinergi ini bukan hanya soal rilis berita, tapi soal menjaga kondusivitas Sragen bersama-sama,” ungkapnya.
Acara ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah yang santai. Di balik dinginnya dinding aula, sore itu ada pesan yang jelas: di Sragen, polisi dan media adalah satu napas dalam menjaga ketertiban. (din/adi)
Editor : Adi Pras