RADARSOLO.COM – Langit di atas Dukuh Modro, Desa Soko, Kecamatan Miri, Sragen pada Selasa (24/2/2026) tampak seperti biasa.
Namun, keheningan di hamparan rel yang membelah Kecamatan Miri seketika pecah oleh deru mesin besi Kereta Api (KA) Matarmaja jurusan Malang-Pasar Senen.
Pukul 14.55 WIB, sebuah benturan keras mengakhiri hidup seorang wanita tanpa identitas. Ia menjadi angka terbaru dalam daftar panjang tragedi di jalur kereta api wilayah Sragen arah Solo – Semarang.
Kejadian terakhir yang menimpa wanita misterius di Dukuh Modro menjadi pengingat betapa ganasnya jalur ini.
Berdasarkan laporan dari Polsek Miri, korban ditemukan dalam kondisi yang memprihatinkan setelah tertemper Loko CC 2017720.
Kapolsek Miri AKP Suprayitno mengonfirmasi, korban dievakuasi ke RSUD Sragen dengan bantuan relawan dan pihak puskesmas.
Tim evakuasi harus menelusuri pinggiran rel sebelum akhirnya menemukan jasad korban yang tak lagi utuh.
Bagi masyarakat di sepanjang perlintasan yang melewati Kalijambe, Gemolong, Miri, hingga Sumberlawang, kecelakaan di rel kereta api bukan sekadar persoalan teknis atau kelalaian manusia.
Di balik sejumlah laporan kejadian yang selalu ada tiap tahun, terselip bisikan-bisikan tentang ”kekuatan lain” yang menjaga jalur tersebut.
Banyak kesaksian warga yang menyebutkan adanya fenomena aneh saat melintasi rel, terutama di titik-titik yang tidak memiliki palang pintu.
Beberapa pengendara mengaku tiba-tiba merasa linglung atau blank saat berada di atas rel.
”Kalau tidak konsentrasi, Kadang pandangan seperti kosong. Tahu-tahu kereta sudah dekat,” ujar Yanto, salah seorang warga yang sering melintas di wilayah tersebut.
Baca Juga: Korve Bersih Sampah HPSN 2026, 200 Peserta Sasar Terminal dan Pasar Tegalgede Karanganyar
Tak hanya gangguan kesadaran, mitos mengenai kendaraan yang tiba-tiba mati mesin di tengah rel juga menjadi momok yang menghantui.
Konon, ada energi gaib yang "menahan" kendaraan agar tetap diam di atas perlintasan saat maut mulai mendekat.
Makhluk ini sering digambarkan tidak kasat mata secara bentuk utuh, namun terasa sebagai tekanan energi.
Menurutnya makhluk ini tidak menyerang fisik, melainkan memancarkan energi gaib yang dipercaya mampu membuat mesin mogok.
Warga meyakini mereka menahan roda kendaraan agar tidak bisa bergerak maju saat klakson kereta.
Kemudian ada makhluk ini menutup pendengaran batin dan fisik korban. Korban akan merasa suasana di sekitarnya mendadak sangat sunyi, seolah suara mesin kereta api yang bergemuruh tertutup oleh penghalang kedap suara.
Hal ini menyebabkan korban tetap santai di atas rel meskipun maut sudah berada di depan mata. Atau menyebabkan fenomena blank atau kehilangan kesadaran sesaat.
Namun, di luar upaya kepolisian dan warga sekitar untuk menghindari korban, masyarakat diminta untuk tidak meremehkan jalur-jalur "silent killer" ini.
Minimnya palang pintu di beberapa titik menuntut kewaspadaan ganda. Entah karena gangguan makhluk astral yang mengincar kelengahan manusia, ataukah murni karena faktor teknis di lapangan.
Satu hal yang pasti, jalur kereta tidak pernah memberi kesempatan kedua bagi mereka yang lalai. (din/adi)
Editor : Adi Pras