RADARSOLO.COM – Suasana duka menyelimuti Bumi Sukowati. Di balik ratusan karangan bunga yang memenuhi kediaman, tersimpan sebuah cerita tentang perjuangan, kasih sayang, dan keikhlasan dari sosok Hertati Wahyuningsih, istri dari Ketua DPRD Sragen Suparno.
Semua bermula sepekan yang lalu. Almarhumah sempat mengeluhkan kondisi tubuh yang meriang.
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, ia diduga terpapar demam berdarah (DB) dan Tipes. Upaya medis pun langsung dilakukan dengan merawat inap Hertati di RS JIH Solo.
Harapan sempat membuncah pada Jumat (27/2/2026), saat dokter menyatakan kondisinya membaik dan ada kemungkinan untuk pulang.
Lantas saat di rumah hingga Minggu (1/3/2026), dengan penuh kesabaran, Suparno sendiri yang mengantar istri ke toilet. Namun panas tubuhnya tak kunjung turun.
”Tangannya memegang saya, masih terasa panas,” ujar Suparno saat menceritakan momen-momen terakhir di rumah.
Malam Senin (2/3/2026) menjadi malam yang panjang. Hingga akhirnya merujuknya ke RSUD Sragen menjelang Subuh.
Namun, kondisi Hertati justru kritis pada siang harinya. Keluarga akhirnya memilih RSUD Dr Moewardi Solo sebagai ikhtiar merawat sang istri.
Di sana, di tengah kondisi yang tidak stabil, sebuah momen mengharukan terjadi.
Almarhumah sempat memberikan isyarat kode jempol, meminta ciuman dari sang suami, dan minta disuapi madu. Sebuah simbol cinta dan pamit yang tenang.
Tepat pada Minggu (1/3/2026) pukul 02.27 WIB, perjuangan Hertati terhenti. Namun, ada satu hal yang memberikan kedamaian di tengah duka mendalam bagi Suparno.
”Alhamdulillah, istri saya meninggal dengan wajah yang sangat cerah,” ungkapnya.
Kepergian ini juga mengungkap sebuah wasiat yang tak disangka. Saat tradisi nyadran beberapa waktu lalu, almarhumah ternyata sudah mengisyaratkan lokasi yang diinginkannya sebagai tempat peristirahatan terakhir.
Kini, ia dimakamkan di TPU SI Sragen, bersatu kembali dengan makam sang ibunda yang telah meninggalkannya sejak kecil.
Kini, ratusan doa mengiringi kepergiannya. Suparno, mewakili almarhumah, menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat dan sahabat jika ada kesalahan tutur kata maupun perilaku semasa hidup.
Pihaknya juga sampaikan rasa terima kasih pada semua pihak yang mengirim doa untuk istri tercintanya.
Bagi sang ketua DPRD, kepergian istrinya bukan sekadar kehilangan pendamping hidup, melainkan penerimaan amanah besar.
”Saya diberi amanah untuk mengasuh anak dan cucu-cucu kami,” pungkasnya. (din/adi)
Editor : Adi Pras