RADARSOLO.COM – Ketegangan warga di sepanjang bantaran Bengawan Solo wilayah Sragen sedikit mereda sore (15/4/2026) ini.
Meski debit air sempat meluap hingga merendam area persawahan dan akses jalan di Kecamatan Plupuh, pukul 16.00 WIB melaporkan air mulai berangsur surut.
Kendati demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen belum menurunkan status siaga.
Mengingat cuaca ekstrem dan kiriman air dari hulu (Solo dan Sukoharjo) masih menjadi ancaman laten bagi wilayah hilir seperti Bumi Sukowati.
Kecamatan Plupuh menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak kenaikan debit air sejak pagi tadi.
Camat Plupuh Budi Santoso mengungkapkan, luapan sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut sempat masuk ke tiga titik krusial di wilayahnya.
”Terpantau ada tiga titik, Mas. Di Dukuh Bodongan (Desa Plupuh), Dukuh Butuh (Desa Gedongan), dan wilayah Desa Gentanbanaran. Mayoritas yang terdampak adalah area persawahan," terang Budi Santoso saat dikonfirmasi Selasa sore.
Tak hanya sawah, air juga sempat meluber hingga ke badan jalan, terutama di Dukuh Bodongan. Kondisi geografis jalan yang cukup rendah membuat air dengan mudah naik ke permukaan saat elevasi Bengawan Solo meningkat.
”Kalau air Bengawan tinggi, biasanya memang terdampak. Di Bodongan air sempat sampai ke jalan karena posisinya agak rendah," tambahnya.
Data terbaru dari Pusdalops BPBD Sragen menunjukkan tren penurunan tinggi muka air di beberapa titik rawan.
Di Desa Gedongan, yang sebelumnya sempat dikabarkan terkepung luapan air hingga ke jalan desa, kini kondisinya sudah jauh lebih terkendali.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Sragen Triyono Putro menyatakan bahwa tim reaksi cepat (TRC) tetap berada di lapangan meski air mulai menyusut.
Baca Juga: Bursa Ketua DPC PKB Sragen Menghangat, Gus Budi: Biarkan Mengalir ke Pusat
"Laporan per pukul 16.00 WIB, di Gedongan sudah surut. Namun, personel tetap kami siagakan penuh. Kami tidak boleh lengah karena cuaca di wilayah hulu masih sulit diprediksi," tegasnya.
Meski di Plupuh mulai surut, BPBD mencatat setidaknya enam kecamatan tetap dalam pantauan ketat karena letak geografisnya yang bersinggungan langsung dengan aliran sungai.
BPBD mengimbau petani yang sawahnya terendam untuk segera melakukan evakuasi alat mesin pertanian, serta meminta warga tetap tenang namun waspada terhadap perubahan debit air yang tiba-tiba. (din/adi)
Editor : Adi Pras