RADARSOLO.COM – Fluktuasi harga cabai yang seringkali melonjak tajam tak lagi menjadi momok bagi warga Kelurahan Sragen Wetan.
Melalui sebuah terobosan bertajuk GEMATI POL (Gemar Menanam dan Investasi Potensi Lokal), warga kini justru mandiri dan mampu menjadikan pekarangan rumah sebagai lumbung ekonomi kecil-kecilan.
Inovasi ini lahir sebagai jawaban atas rendahnya pemanfaatan lahan sisa di pemukiman dan tingginya ketergantungan warga pada pasokan pasar.
Baca Juga: Peduli Disabilitas, Pemerintah Desa Mulur Berdayakan Dengan Peternakan Ayam Petelur
Sebagai langkah awal, RT 39 Widoro ditunjuk menjadi pilot project sekaligus menjadi wakil Kelurahan Sragen Wetan dalam ajang bergengsi Lomba Inovasi 2025-2026.
Lurah Sragen Wetan, Prima Adhi Surya, menegaskan bahwa GEMATI POL bukan sekadar gerakan menanam biasa. Menurutnya, ini adalah langkah strategis untuk membangun kemandirian ekonomi dari unit terkecil, yakni keluarga.
"Kami melihat ada potensi besar yang belum tergarap di pekarangan warga. Melalui GEMATI POL, kami mendorong setiap rumah menanam minimal lima bibit cabai. Hasilnya nyata; beban pengeluaran dapur berkurang, dan saat panen melimpah, ini menjadi investasi lokal yang produktif," ujar Prima Adhi Surya saat ditemui di ruang kerjanya.
Implementasi program ini berjalan masif berkat sinergi "keroyokan".
Di bawah komando Ketua RT 39, Guntur Rilo Subroto, warga bergerak bersama mulai dari penyiapan media tanam, penyemaian bibit, hingga perawatan rutin. Peran Ibu-ibu PKK dan kelompok Dasawisma (Dawis) menjadi kunci keberhasilan monitoring di lapangan.
"Semangatnya adalah gotong royong. Pak RT, pengurus RW, hingga kader Dawis semua turun tangan memastikan bibit yang dibagikan tidak mati. Kami tidak hanya memberi bibit lalu ditinggal, tapi didampingi sampai masa panen tiba," tambah Lurah Prima.
Baca Juga: DPRD Sragen Desak Kades Gali Potensi PADes Usai Pemangkasan Dana Desa
Pantauan di lapangan menunjukkan pemandangan hijau di sepanjang gang RT 39 Widoro. Cabai-cabai tersebut ditanam dengan berbagai metode, mulai dari media tanah langsung hingga penggunaan pot dan polybag bagi rumah yang memiliki lahan terbatas.
Dampaknya pun mulai terasa. Selain lingkungan menjadi lebih asri, keharmonisan antarwarga meningkat berkat aktivitas merawat tanaman bersama. Tak jarang, warga saling berbagi hasil panen jika ada tetangga yang kekurangan, sebuah praktik sosial yang mempererat kerukunan.
"Dulu kalau harga cabai naik, ibu-ibu pasti pusing. Sekarang tinggal petik di depan rumah. Bahkan kalau hasilnya banyak, bisa dijual ke tetangga sebelah. Sederhana, tapi dampaknya luar biasa untuk stabilitas ekonomi keluarga," ungkap salah satu warga dengan sumringah.
Dengan keberhasilan di RT 39 Widoro ini, Kelurahan Sragen Wetan optimis GEMATI POL akan menjadi budaya baru yang merata di seluruh wilayah kelurahan. "Kemandirian pangan tidak harus dimulai dari lahan hektaran, melainkan cukup dari jengkal tanah di teras sendiri," ujarnya. (din)
Editor : Tri Wahyu Cahyono