RADARSOLO.COM – Masalah sampah sering kali menjadi momok di level kelurahan. Mulai dari kebiasaan membakar sampah hingga perilaku membuang limbah rumah tangga ke sungai masih menghantui lingkungan.
Namun, warga Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sragen, kini punya cara beda untuk pamer kemandirian.
Melalui inovasi Karangtengah Layanan Jemput Sampah (Kalasam), mereka mengubah beban lingkungan menjadi pundi-pundi bernilai ekonomi.
Program ini lahir bukan sekadar untuk mengejar Piala Adipura, melainkan respons nyata atas data rendahnya kesadaran pengelolaan sampah di wilayah tersebut.
Baca Juga: Estafet Kepemimpinan Lapas Sragen Berpindah: Fokus Ketahanan Pangan hingga Ekspor Produk WBP
Dengan luas wilayah sekitar 37.600 meter persegi yang dihuni 5.359 jiwa, potensi timbulan sampah di Karangtengah memang tak bisa dipandang sebelah mata.
Lurah Karangtengah Sutarno mengungkapkan, Kalasam dirancang untuk memutus rantai masalah sampah dari hulu. Pihaknya tak ingin warga hanya sekadar "membuang", tapi juga "memilah".
”Kami ingin membangun kesadaran agar masyarakat mampu mengelola sampah secara mandiri. Goal-nya jelas, selain lingkungan bersih, ada nilai ekonomi yang kembali ke warga melalui bank sampah,” ujar Sutarno, Senin (20/4/2026).
Baca Juga: Wabup Karanganyar Murka, Banyak Pejabat Absen di Rapat Paripurna LKPJ 2025
Langkah yang diambil Kelurahan Karangtengah terbilang komprehensif. Mengacu pada UU No. 18 Tahun 2008, kalasam mengintegrasikan konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R).
Proyek ini tidak dijalankan setengah hati. Sejak 2019, alokasi Dana Kelurahan dari APBD telah dikucurkan untuk memperkuat infrastruktur TPS3R dan pemberdayaan masyarakat.
Ada sejumlah tahap antara lain tahap pendek yakni dengan pembentukan bank sampah di tiga RT sebagai pilot project dan pendirian Bank Sampah Induk di tingkat kelurahan.
Berlanjut layanan jemput, petugas akan menjemput sampah yang telah dipilah warga, sehingga tidak ada lagi celah bagi warga untuk membuang sampah ke sungai.
Lantas tahap hilirisasi yakni sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik disulap menjadi kerajinan daur ulang atau dikonversi menjadi saldo tabungan di bank sampah.
Baca Juga: DPRD Sragen Soroti Aset Mangkrak Pemkab, Usul Eks Rumdin Bupati Jadi Kafe
Secara nasional, Indonesia memproduksi sekitar 175 ribu ton sampah setiap harinya. Jika hanya mengandalkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), dipastikan lahan yang ada tidak akan sanggup menampung. Di sinilah Kalasam mengambil peran krusial di tingkat lokal.
”Jika sampah sudah dipilah dan diolah di tingkat RT atau RW, volume yang dibuang ke TPA akan berkurang drastis. Ini adalah bentuk penghematan sumber daya alam sekaligus mitigasi pencemaran lingkungan," tambah Sutarno.
Pemerintah Kabupaten Sragen pun memberikan apresiasi tinggi. kalasam dinilai bukan hanya sekadar program kebersihan, melainkan model pemberdayaan masyarakat yang siap direplikasi ke wilayah lain.
Kini, 9 RW dan 32 RT di Karangtengah sedang bersiap bertransformasi menjadi kawasan hijau yang tak lagi akrab dengan bau sampah, melainkan akrab dengan kemandirian ekonomi. (din/adi)
Editor : Adi Pras