Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Linda Sudeni Sigit Pamungkas, Merawat Napas Kartini lewat Pemberdayaan Perempuan

Ahmad Khairudin • Selasa, 21 April 2026 | 13:09 WIB
Linda Sudeni, istri Bupati Sragen Sigit Pamungkas saat menyalurkan bantuan ke masyarakat. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Linda Sudeni, istri Bupati Sragen Sigit Pamungkas saat menyalurkan bantuan ke masyarakat. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM - Di balik sosok Bupati Sragen Sigit Pamungkas, terdapat figur tenang yang memilih jalan "napas panjang" dalam mengabdi. Dialah Linda Sudeni yang peduli pada isu perempuan dan anak.

Baginya, menjadi pendamping pemimpin daerah bukan sekadar protokoler, melainkan ruang untuk melunasi "utang" yang telah ia geluti sejak masa kuliah. Yakni pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Momentum Hari Kartini tahun ini menjadi potret nyata bagaimana Linda menerjemahkan emansipasi. Bukan sekadar seremoni tabur bunga atau kebaya formalitas, alumnus Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) ini justru membawa semangat Kartini ke ranah yang lebih krusial.

Baca Juga: Setahun Memimpin, Bupati Sragen Sigit Pamungkas Klaim Ekonomi Melejit dan Kemiskinan Turun

Lahir dan menghabiskan masa sekolah di Purwokerto, Linda mengenang masa kecilnya dengan bersahaja.

”Ya seperti umumnya anak kecil lah,” ujarnya merendah saat ditemui di sela kegiatannya. 

Namun, benih kepeduliannya mulai tumbuh subur saat ia hijrah ke Jogjakarta untuk menempuh studi hukum di UGM. Di kota pelajar itu, Linda bukan sekadar mahasiswa yang berkutat dengan diktat.

Baca Juga: Pimpin Ziarah Kartini Karanganyar, Sumanto Tegaskan Jas Merah dan Warisan Perjuangan Nyi Ageng Karang

Dia terjun ke organisasi perempuan dan sempat magang di SAMIN, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berfokus pada hak-hak anak.

Pengalaman bersinggungan dengan tokoh-tokoh perlindungan anak seperti komisioner KPAI, membentuk fondasi berpikirnya bahwa perubahan sosial harus dimulai dari akar rumput.

Saat suaminya dipercaya memimpin Kabupaten Sragen, adaptasi tentu tak terelakkan. Linda mengaku ada rasa sedih saat melihat realitas sosial yang masih menyisakan banyak pekerjaan rumah (PR).

Baca Juga: Wajah Baru Karanganyar: Kereta Gantung Mitis hingga Wahana Kereta Kebun Teh Manjakan Wisatawan

Namun, alih-alih larut dalam beban, ia memilih bergerak melalui dekranasda dan pemberdayaan UMKM. Satu hal yang tegas ia pegang: ia lebih memilih jalur pemberdayaan daripada sekadar bantuan sosial.

”Kalau charity (kegiatan amal,Red), sekali selesai itu kurang menyelesaikan persoalan secara tuntas. Tapi memang PR pemberdayaan itu napasnya harus lebih panjang. Melibatkan banyak pihak dan energinya lebih banyak, tapi itu harus dilakukan,” ungkapnya dengan nada penuh semangat.

Menyambut Hari Kartini, Linda menggerakkan organisasi kemasyarakatan (ormas) perempuan di Sragen untuk tidak hanya merayakan masa lalu, tetapi menjawab tantangan masa depan.

Baca Juga: Mencari "Dava" Baru dari Bumi Sukowati, Askab PSSI Sragen Gelar Piala U-11

Selain program ketahanan pangan lewat penanaman tanaman produktif, ia juga menyoroti kesehatan mental masyarakat melalui launching "Detox Medsos". Baginya, perempuan Sragen saat ini sudah berada di jalur yang tepat.

Kemampuan kaum hawa untuk mengorganisir diri dalam berbagai ormas menjadi bukti bahwa mereka siap berjejaring dan berkontribusi. Namun, Linda tak menutup mata bahwa perjuangan belum usai.

”Kita bersyukur sudah diberi kesempatan luas yang setara dengan laki-laki. Sudah banyak bukti karya perempuan sebagai solusi persoalan masyarakat. Meski begitu, tetap masih ada PR advokasi bagi perempuan yang belum mendapatkan haknya. Itu yang harus terus kita kawal,” tegasnya.

Baca Juga: Muscab PKB Sragen Memanas, 11 Nama Masuk Bursa Calon Ketua

Bagi Linda, menjadi "Kartini" di era modern berarti berani mengambil peran sebagai penyelesai masalah. Linda Sudeni terus menenun jejaring itu, memastikan bahwa pemberdayaan bukan sekadar jargon, melainkan kerja berkelanjutan yang napasnya harus tetap terjaga. (din/adi)

Editor : Adi Pras
#Bupati Sragen Sigit Pamungkas #Linda Sigit Pamungkas #sragen #pemberdayaan perempuan #Hari Kartini