RADARSOLO.COM – Di tengah hiruk-pikuk notifikasi ponsel yang seolah tak pernah tidur, sebuah gerakan tenang dimulai dari TP PKK Sragen.
Momentum Hari Kartini tahun ini tidak lagi sekadar tentang kebaya dan sanggul, melainkan tentang sebuah keberanian baru bagi para ibu, berani meletakkan gawai demi memeluk kembali kehangatan keluarga.
Ketua TP PKK Kabupaten Sragen Linda Sigit Pamungkas menyadari musuh terbesar ketahanan keluarga modern seringkali berada di dalam genggaman tangan kita sendiri.
Lewat peluncuran pilot project Detox Media Sosial, Linda mengajak para orang tua untuk kembali menjadi nakhoda bagi anak-anak mereka di tengah derasnya arus digital.
Baca Juga: Dorong Perempuan Sehat dan Berdaya, Dharma Wanita Karanganyar Gelar Senam Sehat dan Bazar UMKM
Sering terjadi di keluarga ketika semuanya berada dalam satu ruangan, namun masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri di balik layar. Inilah yang ingin didobrak.
Program detox ini bukan bermaksud memusuhi teknologi, melainkan mengajak keluarga untuk meluangkan waktu khusus tanpa gangguan media sosial.
Linda mengingatkan perlu mengganti waktu "scrolling" dengan obrolan tatap muka yang produktif.
Baca Juga: Kodim 0725 Sragen Bangun Sumur Bor untuk Kebutuhan Air Bersih Warga, Ini Lokasinya
Orang tua melakukan pendampingan aktif. Memastikan anak-anak tidak hanya menjadi konsumen konten, tapi tahu cara memilah mana yang sehat bagi mental mereka.
”Perempuan harus mampu memberi manfaat, dimulai dari keluarga. Salah satunya dengan mendampingi anak agar bijak menggunakan media sosial,” ujar Linda, Jumat (24/4/2026)
Menariknya, rehat dari dunia maya ini dibarengi dengan aktivitas fisik yang mengenyangkan. Lewat program Tawa Pak Juber (Tanam, Rawat, Panen, Maju Bersama), para ibu diajak untuk menyentuh tanah kembali.
Istri bupati Sragen ini menyampaikan jika sore hari tanpa gangguan reels atau TikTok, di mana ibu dan anak bersama-sama menanam cabai, tomat, dan terong di pekarangan rumah.
Selain mendukung ketahanan pangan dan ekonomi keluarga agar tak goyah diterjang inflasi, aktivitas ini adalah sarana parenting yang luar biasa.
”Anak belajar tentang kesabaran, proses, dan rasa syukur saat melihat benih yang mereka tanam mulai berbuah," ujarnya.
Gerakan yang digagas bersama Dinas Pengendalian Penduduk (DPPKBPPPA) ini tidak hanya bicara soal teori.
Baca Juga: 39 Kepala SD dan SMP di Karanganyar Terima SK Pengangkatan, Ini Pesan Tegas Bupati
Aksi nyata di lapangan meliputi distribusi bibit sudah dijalankan. Ratusan bibit sayuran dibagikan ke setiap Posyandu untuk dikelola kelompok wanita tani.
Kemudian hasil panen dikelola menjadi kas mandiri, sehingga keluarga tidak terus-menerus bergantung pada bantuan. Pola asuh "sadar digital" dan "mandiri pangan" ini akan direplikasi ke seluruh penjuru Sragen. (din/adi)
Editor : Adi Pras