RADARSOLO.COM – Kawasan Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen, Rabu (29/4/2026) pagi tak seperti biasanya.
Pabrik gula peninggalan era kolonial ini resmi memulai Selamatan Giling Perdana 2026. Bukan sekadar ritual tahunan, momentum kali ini membawa misi besar, memecahkan rekor produksi sepanjang sejarah pabrik berdiri.
General Manager (GM) PG Mojo, Roh Sudyanto menyampaikan, pihaknya mematok target ambisius. Jika kantor pusat menetapkan target 4,5 juta kuintal, dia berani memasang angka 5 juta kuintal tebu untuk digiling tahun ini.
”Melihat tren sejak spin-off dari PTPN IX ke PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) pada 2023, grafiknya terus meroket. Tahun lalu kita mencetak sejarah dengan 4,4 juta kuintal, terbanyak sepanjang PG Mojo berdiri. Tahun ini, 5 juta kuintal adalah angka yang rasional," tegas Roh Sudyanto.
Baca Juga: Kebut TMMD, Kodim 0725 Sragen Libatkan Personel Yonkav Ambarawa
Satu-satunya pabrik gula di Solo Raya yang masih beroperasi ini menduduki kasta tertinggi produksi gula di regional Jawa Tengah dengan capaian 27 ribu ton gula pada musim lalu.
Keberhasilan ini juga berdampak langsung pada ekonomi kerakyatan. Sebanyak 570 lapangan kerja tercipta selama masa giling enam bulan, di mana 98 persen pekerjanya adalah warga asli Bumi Sukowati.
Meski begitu, Roh tak menampik adanya dinamika di lapangan. Dia memohon maaf atas ketidaknyamanan terkait antrean truk yang sempat mengular tahun lalu hingga harus melibatkan Satlantas Polres Sragen. Serta Urusan limbah blothong yang sempat meresahkan warga pun kini telah menemukan solusi hijau.
Baca Juga: 597 Pramuka Siaga Karanganyar Adu Semangat, Cetak Generasi Hebat Sejak Dini
”Kami menggandeng karang taruna dan peternak cacing untuk mengolah blothong menjadi kompos. Jadi, limbah yang dulu dikeluhkan, sekarang jadi berkah ekonomi bagi pemuda,” imbuhnya.
Sementara Bupati Sragen Sigit Pamungkas mengaku memiliki ikatan emosional yang mendalam dengan PG Mojo.
”Bapak saya dulu seorang mandor tebu. Beliau bertugas menjaga lahan agar tebu tidak diambil masyarakat. Saya bisa jadi bupati seperti sekarang, salah satunya karena gaji dari PG Mojo,” kenang Sigit.
Sigit menegaskan, Sragen kini menjadi prioritas nasional perluasan lahan tebu. Pemerintah pusat telah menyiapkan dana jumbo sebesar Rp 23 miliar untuk program bongkar ratoon dan perluasan lahan seluas 1.670 hektare. Namun, ia mengakui realisasi bantuan masih di angka 746 hektare.
Baca Juga: Sabet Juara Umum Jateng, Polres Sragen Andalkan Mbak Dewi
”Masalahnya seringkali miss-match waktu. Bibit datang, tapi tebu di lahan belum ditebang. Ini yang harus kita sinkronkan. Nilai bantuannya besar, mencapai Rp 13,6 juta per hektare (bibit dan tenaga kerja). Sayang kalau tidak terserap maksimal," jelasnya.
Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Sragen, Parwanto menyatakan kesiapan petani untuk mendukung swasembada gula nasional.
Melimpahnya bahan baku di sekitar Sragen, ditambah tebu kemitraan dari Karanganyar dan Sukoharjo, menjadi modal kuat.
”Petani sudah berupaya mengelola lahan sebaik mungkin. Dengan sinergi yang baik antara pabrik, petani, dan pemkab, kami yakin sejarah baru akan kembali tercipta di tahun 2026 ini," tandas Parwanto. (din/adi)
Data Produksi Giling PG Mojo
2023: 1,8 Juta Kuintal
2024: 2,6 Juta Kuintal
2025: 4,4 Juta Kuintal (Rekor Sejarah)
2026: Target 5 Juta Kuintal
Editor : Adi Pras