RADARSOLO.COM — Dinginnya ruang penyimpanan (storage) dan bau khas tanah purba menyambut para pengunjung di Museum Bukuran Sangiran, Kamis (30/4). Melalui program inovatif bertajuk “Sehari Menjadi Dr. Fosil”, masyarakat diajak mengintip aktivitas di balik layar: mengenal langsung kerja keras konservator dalam merawat koleksi fosil dan artefak berusia jutaan tahun.
Nurul Fadilah, konservator Museum Sangiran sekaligus pamong budaya, memandu langsung para peserta. Ia menjelaskan bahwa layanan ini bertujuan memberikan pengalaman nyata mengenai proses preservasi benda cagar budaya.
“Hari ini kami membuka layanan ‘menjadi dokter fosil sehari’. Tujuannya adalah mengenalkan kepada pengunjung bagaimana prosedur perawatan koleksi. Inilah yang dikerjakan para konservator setiap hari,” jelas Nurul.
Ia menekankan bahwa koleksi yang dipajang di ruang pameran depan merupakan hasil akhir yang sudah melalui proses panjang. “Di belakang layar, ada peran konservator yang memastikan fosil terawat, suhu dan kelembapannya terjaga, serta dibersihkan dengan teknik khusus. Kami ingin publik teredukasi bahwa koleksi ini harus dijaga bersama agar tidak rusak,” tambahnya.
Baca Juga: Klaster Museum Sangiran Tawarkan Tema Unik dan Edukatif, Tak Hanya di Krikilan
Koleksi di Museum Bukuran sangat beragam, mulai dari fosil flora dan fauna seperti gajah purba, buaya, dan kuda nil, hingga artefak alat batu peninggalan manusia purba Homo erectus seperti kapak perimbas dan serpih. Setiap temuan membutuhkan perlakuan khusus agar tetap awet dan tidak mengalami degradasi.
Ilham, mahasiswa asal Klaten, mengaku sangat antusias mengikuti program ini. “Ini pengalaman pertama saya. Ternyata fosil tidak bisa asal pegang. Harus menggunakan sarung tangan khusus, dicatat kode temuannya, dan disimpan di laci tertentu. Rumit, tapi sangat keren,” ungkapnya.
Baca Juga: Mengungkap Keajaiban di Balik Layar: Kesabaran Konservator Fosil di Museum Manusia Purba Sangiran
Hal senada dirasakan Dani, siswa SMA asal Jogja. Ia merasa materi yang didapat sangat relevan dengan pelajaran sejarah di sekolah. “Saya bisa melihat koleksi aslinya, bukan sekadar replika. Tadi diajarkan cara membersihkan debu di permukaan fosil menggunakan kuas halus secara perlahan,” ujarnya.
Pengalaman paling berkesan dirasakan oleh Yuni, seorang pekerja swasta asal Solo. Kali ini ia datang bersama ibunya untuk melihat sisi lain museum yang biasanya tertutup untuk umum.
“Saya memang hobi ke museum purba, tapi yang berbeda hari ini adalah kami diperbolehkan masuk ke storage. Kami melihat koleksi asli yang belum dipajang, seperti rahang gajah dan tengkorak buaya yang tersusun rapi dan dilabeli satu per satu. Sangat takjub,” tutur Yuni.
Program ini sengaja "membongkar dapur" museum agar peserta tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku identifikasi awal, dokumentasi, hingga simulasi perawatan sederhana di bawah pengawasan ahli.
“Harapan kami, pengunjung semakin terfasilitasi dan memahami bahwa Sangiran adalah Situs Warisan Dunia yang harus kita jaga bersama. Edukasi seperti ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki di hati masyarakat,” tutup Nurul.
Sehari menjadi “Dr. Fosil” mungkin terasa singkat, namun bagi para peserta, waktu tersebut cukup untuk menyadari bahwa di balik kaca pajang, ada tangan-tangan konservator yang diam-diam menjaga napas masa lalu agar tetap abadi. (atn)
Editor : Kabun Triyatno