RADARSOLO.COM – Ketika malam makin larut, riuh kendaraan yang melintas di kawasan Perempatan Makam Sarekat Islam (SI) Sragen perlahan mulai surut.
Berganti dengan kesunyian yang membawa atmosfer berbeda. Bagi sebagian warga Bumi Sukowati, melintasi kawasan ini selepas tengah malam bukan sekadar perkara menempuh jarak, melainkan tentang menguji nyali.
Perempatan ini memang unik, sekaligus menyimpan kompleksitas aura yang bikin bulu kuduk berdiri. Tengok saja sekelilingnya.
Baca Juga: Proyek Jalan Tani TMMD Kodim 0725 Sragen di Desa Puro Kelar
Di satu sisi berdiri lembaga pemasyarakatan (lapas), tempat para pelaku kejahatan menebus dosa dan merenungi hukuman.
Di sisi timurnya lagi, berdiri kokoh dinding rumah sakit, tempat di mana garis takdir kehidupan manusia dipertaruhkan, dan tak sedikit pasien yang akhirnya mengembuskan napas terakhir di sana.
Perpaduan antara energi keputusasaan dari balik jeruji besi dan aroma duka dari ruang perawatan, seolah menyatu dengan tanah makam pribumi yang hingga kini masih dipertaruhkan keberadaannya.
Baca Juga: DPRD Karanganyar Desak Maksimalkan Hanggar dan Tambahan Truk di TPA Sukosari
”Kalau malam, auranya memang beda. Seperti ada tekanan yang membuat kita refleks ingin cepat-cepat lewat,” ujar Wahyu, salah seorang warga setempat yang kerap melintasi jalur tersebut, Jumat (15/5/2026).
Wahyu tak menampik banyaknya desas-desus yang beredar di masyarakat mengenai keangkeran perempatan ini.
Namun bagi pria asal Sragen kota ini, kunci utama menghadapi jalur wingit ini adalah kesiapan mental.
”Yang penting fokus, waspada, dan jangan pernah putus doa selama perjalanan. Itu benteng utamanya,” imbuhnya.
Berdasarkan catatan sejarah lokal, kawasan ini dulunya merupakan kompleks pemakaman yang luas. Tidak hanya menjadi rumah terakhir bagi warga pribumi, tetapi juga pemakaman bagi warga keturunan Belanda dan Tionghoa.
Seiring berjalannya waktu dan penataan kota, makam Belanda dan Tionghoa tersebut akhirnya dibongkar dan direlokasi. Menyisakan pemakaman pribumi yang hingga kini masih difungsikan. Pembongkaran ini rupanya meninggalkan "jejak" tersendiri yang sulit dicerna logika.
Alin, warga lainnya, membagikan pengalaman ganjil yang dialaminya sendiri. Beberapa kali melintas di dekat area makam, mendadak mesin sepeda motornya mati total tanpa sebab yang jelas.
”Padahal kondisi motor sehat, bensin penuh. Anehnya, setelah motor saya tuntun agak menjauh dari area perempatan makam, mesinnya bisa langsung hidup lagi dengan sekali stater,” kenang Alin dengan dahi berkerut.
Fenomena motor mogok misterius ini rupanya bukan sekali-dua kali terjadi, melainkan sudah menjadi rahasia umum bagi pengendara yang kurang "beruntung".
Keangkeran Perempatan Makam SI tidak hanya dibangun dari cerita mulut ke mulut, melainkan juga dari rentetan peristiwa yang nyata.
Kawasan ini dikenal sebagai salah satu titik rawan kecelakaan lalu lintas yang kerap menelan korban jiwa.
Belum lama ini, duka menyelimuti warga Kecamatan Mondokan. Seorang pencari rosok (barang bekas) dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan tragis yang lokasinya tak jauh dari perempatan angker tersebut.
Baca Juga: Pesona Sendang Kembar Boyolali, Mata Air Asri di Balik Masjid "Terapung" Suyudan
Kejadian demi kejadian seolah terus memperpanjang daftar hitam jalur maut ini. Tak sampai di situ, memori warga juga sebagian masih ingat ada penemuan jenazah di saluran air dekat makam beberapa waktu lalu.
Korban yang diduga kuat merupakan korban tindak kejahatan tersebut seolah menambah pekatnya energi negatif yang menyelimuti kawasan Perempatan Makam SI.
Antara mitos makhluk tak kasat mata, sisa sejarah pemakaman tiga budaya, hingga realita kecelakaan maut yang terus berulang, Perempatan Makam SI Sragen tetap berdiri sebagai salah satu sudut paling misterius.
Bagi mereka yang paham, melintasi jalur ini bukan sekadar menginjak gas, tapi juga tentang menghormati ruang-ruang masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. (din/adi)
Editor : Adi Pras