RADARSOLO.COM – Gelombang pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kian memberikan tekanan nyata bagi sektor riil, tak terkecuali pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menanggapi kondisi makro yang kurang bersahabat ini, Menteri Koperasi dan UMKM Maman Abdurrahman angkat bicara.
Dia menegaskan, merosotnya mata uang garuda bukan cerminan dari rapuhnya fundamental ekonomi domestik.
Menurut Maman, fluktuasi tajam ini murni imbas dari memanasnya tensi geopolitik global di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
sBaca Juga: Harkitnas, Polres Sragen Beri Apresiasi Penggerak Satkamling Terbaik
Kondisi tersebut memicu penguatan dolar AS secara global (dollar rally) yang ikut menekan mata uang berbagai negara berkembang.
”Saya harus luruskan, melemahnya rupiah ini bukan dikarenakan fundamental ekonomi negara kita. Ini dampak konflik Timur Tengah,” tegas Maman saat ditemui awak media di Sentra Industri Kreatif dan Kerajinan (SIKK) Sragen, Rabu (20/5/2026).
Meski berakar dari sentimen global, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dipastikan tidak tinggal diam.
Baca Juga: 316 PPPK Baru Pemkab Karanganyar Digembleng
Maman menyebut langkah-langkah intervensi telah dikerahkan melalui Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter guna menahan agar kurs dolar tidak meroket secara drastis di pasar spot.
Kendati intervensi moneter terus berjalan, efek domino pelemahan rupiah rupanya mulai merembes ke dapur produksi UMKM.
Maman tidak menampik adanya dampak langsung (impact) yang mulai dirasakan pelaku usaha, terutama mereka yang bergantung pada komoditas impor.
Baca Juga: Bournemouth Tahan Imbang Manchester City, Arsenal Resmi Juara Premier League 2026
”Sampai hari ini memang ada beberapa dampak, salah satunya pada impor bahan baku (raw material) plastik. Padahal, banyak sekali pelaku UMKM kita yang usahanya menggunakan plastik,” bebernya.
Guna mencegah rantai produksi UMKM lumpuh akibat lonjakan harga bahan baku impor, Kementerian UMKM langsung menyodorkan bantalan kebijakan ekonomi jangka pendek.
Salah satunya dengan membebaskan tarif bea masuk untuk komoditas bahan baku plastik. Langkah proteksi ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga di tingkat produsen lokal agar tidak memicu inflasi barang jadi.
Baca Juga: Jelang Penutupan TMMD, Dandim 0725 Sragen Cek Lokasi Kunjungan Pangdam
Namun, saat disinggung mengenai ancaman gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mulai diumumkan oleh sejumlah korporasi akibat efek pelemahan rupiah ini, Maman enggan berkomentar jauh.
”Kalau domainnya perusahaan besar, saya pikir itu bukan ranah UMKM. Silakan ditanyakan kepada kementerian atau instansi terkait,” kelitnya. (din/adi)
Editor : Adi Pras