RADARSOLO.COM – Proses penerimaan peserta didik baru Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Sragen tahun ajaran 2026/2027 menunjukkan ketimpangan mencolok. Saat jenjang SMP mengalami kelebihan peminat, jenjang SD justru sepi pendaftar.
Berdasarkan data aplikasi Setara (Sistem Evaluasi Terpadu Sekolah Rakyat) milik Kementerian Sosial hingga akhir Mei, jumlah pendaftar SD baru mencapai tiga siswa.
Sebaliknya, pendaftar SMP sudah menembus 92 siswa atau melampaui kuota yang tersedia. Sementara jenjang SMA telah menjaring 71 calon peserta didik.
Baca Juga: Kritik Pernyataan Gubernur Jateng, Politisi Sragen: Semua Jalan Penting
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sragen Yuniarti menjelaskan, kuota yang disiapkan untuk masing-masing jenjang sebenarnya sama, yakni 90 siswa.
Jumlah tersebut dibagi ke dalam tiga rombongan belajar dengan kapasitas masing-masing 30 siswa.
“Untuk jenjang SMP malah sudah melebihi kuota utama. Antisipasinya, kami akan menambahkan slot cadangan sebesar 10 persen untuk mengamankan proses seleksi dan registrasi ulang nanti,” ujarnya, Senin (1/6/2026).
Menurut Yuniarti, minimnya pendaftar SD menjadi tantangan terbesar dalam proses penerimaan siswa Sekolah Rakyat tahun ini.
Baca Juga: Hari Lahir Pancasila, Bupati Karanganyar Ajak Warga Jaga Persatuan
Faktor utama yang dihadapi adalah keengganan orang tua melepas anak usia sekolah dasar untuk tinggal di asrama.
Mayoritas orang tua di sekitar lokasi sekolah, khususnya di Kecamatan Mondokan, masih merasa berat jika anak-anak mereka harus mengikuti sistem boarding school yang diterapkan Sekolah Rakyat.
“Rata-rata orang tua anak usia SD ingin anaknya bisa langsung pulang ke rumah setelah sekolah. Banyak yang merasa anaknya masih terlalu kecil dan belum tega jika harus tinggal di asrama,” katanya.
Baca Juga: Lalai saat Masak Daging Kurban, Rumah Warga Sragen Terbakar: Mobil dan Motor Ikut Hangus
Padahal, sistem asrama menjadi konsep utama yang diterapkan Kementerian Sosial dalam Sekolah Rakyat.
Model tersebut dirancang untuk mendukung pembentukan karakter siswa secara menyeluruh melalui pendampingan selama 24 jam.
Yuniarti menambahkan, Sekolah Rakyat jenjang SD sebenarnya menerapkan sistem multi-entry.
Dengan skema tersebut, anak pada berbagai jenjang kelas dapat langsung diterima dan difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan.
Baca Juga: Polres Karanganyar Siagakan Personel Antisipasi Gesekan Antarperguruan Silat
Berbeda dengan sekolah reguler yang mengandalkan pendaftaran mandiri, proses rekrutmen Sekolah Rakyat dilakukan melalui metode jemput bola.
Petugas melakukan penjangkauan dan asesmen langsung ke rumah-rumah calon siswa yang masuk kategori sasaran program.
Tahapan tersebut berlangsung sejak awal Mei hingga akhir Juni 2026. Dinsos Sragen memastikan proses pencarian calon siswa masih terus dilakukan untuk memenuhi kuota yang tersedia.
Baca Juga: Jalan di Sragen yang Biasa Dilewati Menteri Bahlil untuk Sungkem Mertua Dilebarkan 2 Meter
Secara regulasi, Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi keluarga miskin yang masuk kategori Desil 1 dan Desil 2 dalam data kemiskinan nasional.
Namun, pemerintah membuka ruang pemutakhiran data apabila ditemukan keluarga yang layak menerima bantuan meski belum tercatat dalam kategori tersebut.
“Kalau di lapangan ditemukan keluarga yang benar-benar miskin tetapi datanya belum sesuai, kami bisa langsung melakukan pemutakhiran. Jadi penanganannya lebih fleksibel dan tepat sasaran,” tegas Yuniarti.
Baca Juga: Kapan Libur Tanggal Merah Juni 2026? Cek Kalender dan Jumlah Hari Libur Nasional Bulan Ini
Untuk batas usia, jenjang SD menerima siswa berusia 7–12 tahun, SMP maksimal 15 tahun, sedangkan SMA hingga usia 21 tahun.
Meski berlokasi di Kecamatan Mondokan, Sekolah Rakyat Sragen juga mulai menarik minat masyarakat dari daerah lain. Namun hingga kini, tantangan terbesar tetap berada pada jenjang SD yang masih jauh dari target kuota. (din/bun)
Editor : Adi Pras