RADARSOLO.COM – Dinamika penentuan lokasi perhelatan akbar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 terus menggelinding panas.
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sragen secara resmi mengambil sikap tegas dengan melayangkan dukungan penuh agar agenda tersebut digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
Langkah konkret ini tertuang dalam Surat Pernyataan resmi yang ditandatangani secara elektronik oleh jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Sragen pada Rabu (24/6/2026).
Baca Juga: Update Kasus Perampokan di Jenar, Polres Sragen Bekuk Penadah Motor dan Ponsel Milik Korban
Ditembuskan ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) serta Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah.
Ketua PCNU Sragen Sriyanto menegaskan, usulan memposisikan Lirboyo sebagai tuan rumah bukan sekadar persoalan teknis geografis. Ada misi teologis dan historis yang sangat mendasar di balik dorongan tersebut.
”Alasannya ya kita kepingin mengembalikan roh dari pada NU ini ke dunia pesantren. Jadi seperti yang kita lakukan itu kan hari ini seluruh kegiatan-kegiatan kita itu kan kembali ke pesantren semuanya,” ujar Sriyanto, Kamis (25/6/2026).
Baca Juga: 3 Tahun Tak Ada Pendaftar, SDN 3 Blumbang di Karanganyar Terancam Ditutup
Menurut Sriyanto, Pondok Pesantren Lirboyo merupakan salah satu episentrum pendidikan Islam Ahlussunnah wal Jamaah paling berpengaruh di tanah air.
Pesantren legendaris ini memiliki rekam jejak panjang yang tidak terbantahkan dalam melahirkan jutaan ulama, kiai, hingga kader militan NU di berbagai pelosok Nusantara.
Selain faktor nilai historis dan spiritual yang kuat, kalkulasi rasional mengenai daya tampung juga menjadi poin krusial.
Baca Juga: Muhibah Budaya Sri Sultan Hamengkubuwono X di Sragen Diundur, Ini Penyebabnya
Mengingat Muktamar NU adalah hajat mahabesar yang melibatkan ribuan pengurus dari tingkat cabang hingga internasional, dibutuhkan kesiapan logistik dan infrastruktur yang matang.
”Dari pesantren yang paling memungkinkan untuk menampung sebesar acara Muktamar, ya pesantren yang paling representatif adalah Lirboyo,” imbuh Sriyanto.
Ketika disinggung mengenai eskalasi dinamika nasional dan isu adanya penolakan atau penganuliran terhadap usulan Lirboyo, Sriyanto menanggapi hal tersebut dengan sangat tenang.
Baca Juga: Diduga Korsleting, Sepeda Motor Yamaha Aerox Terbakar di Jalan Lawu Karanganyar
Baginya, riak-riak perbedaan sudut pandang di tubuh NU merupakan hal yang lumrah terjadi dalam setiap kontestasi gagasan.
”Kami masih dalam tanda kutip belum bisa mengambil sebuah sikap (terhadap dinamika nasional). Ya, kemudian dinamika itu sesuatu yang biasa dalam sebuah organisasi, sudut pandang berbeda masing-masing. Namun secara keorganisasian kita tetap ikut sami'na wa atha'na terhadap garis komando organisasinya,” tandasnya. (din/adi)
Editor : Adi Pras