RADARSOLO.COM – Raja Kasultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X melakukan rangkaian kunjungan bersejarah ke Sragen, Kamis (9/7/2026).
Kunjungan bertajuk "Muhibah Budaya" ini menuju ke sejumlah situs petilasan leluhurnya, Kanjeng Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I).
Didampingi Bupati Sragen Sigit Pamungkas, langkah kaki orang nomor satu di Yogyakarta tersebut tidak sekadar menjadi seremonial kebudayaan.
Baca Juga: Kemenag Sragen Tanggapi Insiden di KUA Karangmalang: Sempat Terjadi Ketegangan hingga Diusir Staf
Melainkan membuka peluang emas integrasi sejarah Mataraman Islam dan pengembangan sektor pariwisata lokal di Bumi Sukowati.
Sekda Sragen Hargiyanto menyampaikan, kedatangan Sri Sultan HB X beserta rombongan disambut dengan penuh khidmat. Warga Sragen terlihat sangat antusias menyambut HB X bahkan mencium tangan Sri Sultan.
Rangkaian kegiatan yang seluruhnya didanai melalui Dana Keistimewaan (Danais) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini diisi dengan agenda utama Napak Tilas Sultan, menyisir kembali rute gerilya Pangeran Mangkubumi saat melawan kongkalikong Hindia Belanda.
Baca Juga: Pukulan Telak KDMP, Koperasi Kelurahan Merah Putih di Karanganyar Ini sudah Launching
Rute napak tilas Sri Sultan HB X mencakup empat situs utama di Sragen yang memiliki nilai historis sangat tinggi bagi berdirinya Kasultanan Yogyakarta.
Yakni Pandak, Krikilan, Kecamatan Kalijambe yang merupakan pos pertama persinggahan Pangeran Mangkubumi setelah memutuskan pergi meninggalkan Keraton Surakarta karena perselisihan mendalam dengan pihak Belanda. Dia mendirikan markas pertahanan awal di wilayah ini.
Kemudian Gua Mangkubumen di Desa Gebang, Kecamatan Masran. Ketika keberadaan pertahanan di Pandak mulai terendus oleh Belanda, Mangkubumi mengalihkan pasukannya ke wilayah Gebang. Di sana terdapat gua tersembunyi yang digunakan untuk mengatur strategi perlawanan.
Ketiga yakni Pesanggrahan Ponopatan di Desa Katelan, Kecamatan Tangen. Situs strategis ini berada di dekat aliran sungai besar, berfungsi khusus sebagai pos pengintaian pergerakan logistik dan armada militer kolonial.
Terakhir di Sumberan, Desa Japoh, Kecamatan Jenar. Titik krusial yang menjadi lokasi perundingan-perundingan penting para petinggi pengikut Mangkubumi sebelum mengerucut pada kesepakatan historis, Perjanjian Giyanti pada 1755.
”Kanjeng Sultan tadi berkenan menikmati kunjungan, bahkan sempat membasuh tangan di mata air Sumberan. Saya melihat ini potensial viral. Kanjeng Sultan cuci muka atau cuci tangan di situ saja, pasti besok pagi akan banyak masyarakat yang penasaran dan datang ke situ,” ujar Hargiyanto. (din/adi)
Editor : Adi Pras