RADARSOLO.COM – Angka kemiskinan di Kelurahan Kroyo, Kecamatan Karangmalang, Sragen masih tinggi. Kondisi tersebut membuat pemerintah kelurahan setempat tergugah untuk menekan angka tersebut.
Salah satunya melalui program Unit Reaksi Cepat Pendampingan Pelayanan Kemiskinan (Urip Dipenake). Di Kelurahan Kroyo, garis kemiskinan masih tinggi. Sesuai Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), garis kemiskinan di sana masuk kategori desil 1-5.
“Kemiskinan itu sifatnya dinamis. Hari ini bisa saja ada warga yang sehat, namun besok jatuh sakit berkepanjangan dan seketika kehilangan mata pencaharian,” ujar Pelaksana tugas (Plt) Lurah Kroyo Arif Yustiawan, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga: Pangdam IV/Diponegoro Turun ke Sragen: Tegaskan Yonif TP Jadi Tulang Punggung TNI AD
Menolak diam, Kelurahan Kroyo turun tangan. Tim Urip Dipenake dibentuk. Bukan sekadar program di atas kertas, inovasi ini diwujudkan dengan gerakan nyata. Pemerintah jemput bola, memastikan negara hadir untuk warga miskin.
“Melalui tim Urip Dipenake, kelurahan ingin memastikan bahwa birokrasi tidak lagi menjadi penghambat yang kaku. Bantuan harus datang secepat mungkin, sebelum kondisi ekonomi dan sosial warga miskin memburuk secara drastis,” imbuh Arif.
Menurut Arif, selama ini problem klasik penanggulangan kemiskinan berkutat pada dua hal. Mulai dari data yang kurang presisi, hingga lambatnya respons penanganan di lapangan.
Melalui Urip Dipenake, Kelurahan Kroyo mendobrak sekat-sekat problematika tersebut. Unit reaksi cepat diterjunkan untuk bekerja layaknya paramedis di medan pertempuran sosial.
Begitu ada laporan atau temuan warga miskin yang membutuhkan intervensi mendesak, baik terkait kesehatan, pendidikan, maupun ruang kerja, tim langsung bergerak melakukan pendampingan aktif.
Sinergi lintas sektor sengaja dipangkas, agar menjadi jalur bebas hambatan bagi pelayanan publik. Hebatnya, langkah taktis skala lokal yang digawangi Arif dan jajarannya ini sejatinya sedang menggemakan misi global.
Baca Juga: SMK Muhammadiyah 4 Sragen Bekali Murid Baru Bahasa Jepang dan Inggris selama MPLS
Inovasi Urip Dipenake dirancang secara presisi untuk menjawab tantangan dunia melalui sustainable development goals atau SDGs.
Tujuannya menghapus kemiskinan melalui prioritas penanganan cepat warga desil 1-5 berdasarkan kebutuhan riil di lapangan.
Selain itu, juga memberikan pendampingan bagi warga yang sakit menahun, agar mendapatkan akses layanan kesehatan rutin tanpa terkendala biaya.
Selanjutnya, misi mencerdaskan kehidupan bangsa turut diadopsi untuk mewujudkan layanan pendidikan berkualitas.
Baca Juga: Bakal Dibangun Batalyon TP di Kerjo, Pemkab Karanganyar Perkuat Dukungan Infrastruktur dan Lahan
“Tim Urip Dipenake juga merangkul kembali anak-anak usia sekolah yang putus sekolah di Kroyo. Harapannya, mereka kembali mengenyam bangku pendidikan yang layak demi masa depan,” ujarnya.
Terkait pilar ekonomi, Tim Urip Dipenake memfasilitasi pelatihan keterampilan bagi warga usia produktif yang nganggur. Supaya memiliki keahlian untuk bekal hidup mandiri.
Semua target tersebut mustahil tercapai tanpa kemitraan. Dimanifestasikan lewat rajutan sinergi dan kolaborasi lintas sektoral, agar penanganan kemiskinan lebih optimal.
Baca Juga: Revitalisasi SMPN 2 Karangpandan Digelontor Rp 2,3 Miliar
Bagi Arif, inovasi ini adalah pertaruhan tanggung jawab moral pelayanan publik yang nyata di Kroyo. Kini, tidak boleh ada lagi cerita warga sakit menahun yang terabaikan, atau pemuda usia produktif yang masih nganggur.
“Melalui Urip Dipenake, kemiskinan di Kelurahan Kroyo tidak lagi dipandang sebagai angka statistik belaka. Melainkan sebagai panggilan kemanusiaan yang harus diselesaikan dengan cepat, tepat, dan bermartabat,” bebernya. (din/fer)
Editor : Adi Pras