RADARSOLO.COM – Ribuan warga Desa Galeh, Kecamatan Tangen, Sragen kini harus bersabar akibat sumur-sumur mereka mulai kering kerontang.
Tercatat, sedikitnya 1.664 jiwa dari 671 kepala keluarga (KK) kini menggantungkan hidupnya pada bantuan dropping air bersih. Yakni di Dukuh Galeh, RT 01 (77 KK), RT 02 (81 KK), dan RT 04 (64 KK).
Kemudian Dukuh Gondang RT 05 (88 KK) dan RT 06 (69 KK). Dukuh Barong RT 07 (70 KK) dan RT 08 (87 KK) serta Dukuh Trumun: RT 09 (79 KK) dan RT 10 (56 KK).
Baca Juga: Tragedi Berdarah Senapan Angin di Sragen, Renggut Nyawa Petani Tua
Kepala Desa Galeh Triyono mengatakan, dampak kemarau tahun ini jauh lebih mencekik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Sumber mata air yang biasanya diandalkan warga untuk kebutuhan domestik kini menyusut drastis.
”Sebagian besar warga kami sudah kelimpangan mencari air bersih. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, kami bergerak cepat mengajukan permohonan dropping air ke BPBD Sragen,” ujar Triyono, Minggu (19/7/2026).
Baca Juga: Gudang Pabrik Sendal di Kebakkramat Karanganyar Terbakar, Diawali Suara Ledakan
Pihak pemerintah desa telah melayangkan surat resmi kepada BPBD Kabupaten Sragen. Langkah ini diambil demi menyelamatkan sembilan RT yang tersebar di beberapa dukuh.
Meski beberapa titik seperti RT 01, 02, 05, dan 06 sudah mendapat guyuran bantuan air bersih beberapa hari lalu, pasokan tersebut dinilai belum mampu menutup napas panjang kebutuhan warga hingga kemarau usai.
Di sektor pertanian, petani Desa Galeh memperdalam sumur pantek mereka secara manual. Tanah dikeruk lebih dalam demi memburu sisa-sisa air.
Baca Juga: Tekan Kemiskinan Ekstrem, Kelurahan Kroyo Sragen Terjunkan Pasukan Urip Dipenake
”Sumur yang ada diperdalam lagi. Airnya keluar, tapi keruh sekali. Ya, mau bagaimana lagi, air keruh ini terpaksa disedot pakai pompa hanya untuk menyiram jagung supaya bisa bertahan sampai panen,” keluh Suparmin, salah seorang petani setempat.
Bagi Suparmin dan petani lainnya, prioritas air saat ini terbelah dua. Air keruh dari sumur dalam dipaksa untuk menyelamatkan komoditas tani.
Sementara untuk konsumsi dan memasak, mereka murni mengandalkan belas kasih droping tangki air dari Pemerintah Kabupaten Sragen. Jika bantuan terlambat datang, taruhannya adalah kelangsungan hidup ribuan warga. (din/adi)
Editor : Adi Pras