Fenomena Upwelling Landa Waduk Kedung Ombo Sragen, Petani Karamba Siaga dan Keluar Biaya Operasional Ekstra

Ahmad Khairudin • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 13:45 WIB
Keramba ikan di Waduk Kedung Ombo, Kecamatan Sumberlawang, Sragen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Keramba ikan di Waduk Kedung Ombo, Kecamatan Sumberlawang, Sragen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM — Fenomena upwelling atau pengadukan air dasar dan permukaan waduk kembali melanda kawasan Waduk Kedung Ombo (WKO) di Kecamatan Sumberlawang, Sragen.

Kondisi akibat peralihan cuaca ini menyebabkan para pembudidaya ikan pada keramba jaring apung (KJA) harus bersiaga ekstra guna menyelamatkan ribuan ikan yang terancam mati mendadak.

Dampak dari fenomena upwelling ini dirasakan langsung oleh puluhan petani ikan.

Baca Juga: Industri Rokok Lokal di Sragen Utara Terancam Beredarnya Produk Ilegal

Ketua Paguyuban Berkah Mina Boyolayar, Harwito mengungkapkan, di wilayahnya terdapat sekitar 23 pembudidaya keramba yang terdampak serangan upwelling intensif selama empat hari terakhir.

Harwito menjelaskan, meski dampak kematian ikan bervariasi pada tiap pemilik, pembengkakan biaya operasional untuk penyelamatan tidak dapat dihindari.

Para petani harus mengeluarkan biaya sewa atau bahan bakar kapal untuk menyeret/menggeser karamba ke area aman.

Baca Juga: Kebakaran Pabrik Sendal di Kebakkramat Karanganyar Sebabkan Kerugian Rp 10 Miliar

"Kalau Boyolayar ada yang tidak kena, ada yang kena sedikit. Tapi kalau ditotal biaya operasional plus menyeret keramba pakai kapal sehari bisa sekitar Rp 5 juta. Kalau dikalikan 4 sampai 5 hari, sudah habis Rp 20 jutaan untuk biaya mengamankan ikan saja," jelas Harwito, Kamis (23/7/2026).

 dinamika harga di pasaran, Harwito menyebutkan bahwa harga jual ikan saat ini masih relatif stabil. Namun, keterbatasan stok akibat gangguan produksi berpotensi memicu kenaikan harga dalam beberapa hari ke depan.

"Sementara ini karena barang belum mulai langka harganya masih stabil. Tapi kalau sampai 10 hari ke depan stok terus berkurang, kemungkinan besar harga dari petani yang punya barang akan naik," tambahnya.

Baca Juga: Praperadilan Ditolak, Status Tersangka Pemilik TikTok Kang Margo Sragen Sah Secara Hukum

Sementara itu, terkait penanganan bangkai ikan yang tidak tertolong, Harwito menjelaskan bahwa ekosistem karamba memiliki mekanisme penguraian alami. 

Bangkai ikan umumnya dimanfaatkan sebagai pakan bagi komoditas ikan pemakan bangkai di sekitar waduk.

"Bangkai ditaruh di waduk saja, nanti dimakan ikan lele liar atau lele yang ada di sekitar keramba. Tiap keramba itu ada lele yang memang berfungsi untuk mengurai limbahnya," pungkas Harwito.

Baca Juga: Suzuki Thunder Dilarang Isi BBM di SPBU, Berapa Kapasitas Tangki Besarnya hingga Jadi Sorotan?

Kapolsek Sumberlawang AKP Sudarmaji mengonfirmasi, fenomena alam tersebut telah berlangsung dalam kurun waktu sekitar dua minggu terakhir.

Sebagai langkah penanganan awal, para pemilik keramba siaga 24 jam di lokasi untuk mengantisipasi penurunan kualitas air secara drastis.

"Iya, itu sudah dua mingguan lalu. Pemilik karamba siaga terus di lokasi. Manakala nanti ada cuaca buruk, mereka langsung bersiap menggeser karamba ke titik yang lebih aman," terang AKP Sudarmaji.

Baca Juga: SDN Mojorejo 1 di Sragen Disatroni Maling, Proyektor Ruang Guru Raib

Sementara itu, untuk menekan angka kematian, Kapolsek Sumberlawang AKP Sudarmaji memaparkan bahwa para pembudidaya menerapkan serangkaian tindakan darurat saat ikan mulai menunjukkan gejala kehabisan oksigen (teler).

Seperti menggeser karamba ke zona air yang lebih stabil menggunakan kapal. Kemudian Penggunaan Aerator untuk Menyuplai gelembung udara (oksigen tambahan) agar ikan tertolong. (din/adi)

Editor : Adi Pras
ikan waduk kedung ombo sragen sumberlawang Upwelling