PG Mojo Sragen Disidak DPRD, Buntut Keluhan Debu dan Limbah

Ahmad Khairudin • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 18:28 WIB

 

Komisi III DPRD Sragen sidak PG Mojo, Jumat (24/7/2026). (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Komisi III DPRD Sragen sidak PG Mojo, Jumat (24/7/2026). (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Komisi III DPRD Sragen sidak Pabrik Gula (PG) Mojo, Jumat (24/7/2026), buntut menbanjirnya keluhan dari masyarakat.

Di sana, anggota dewa ingin membongkar biang kerok pencemaran lingkungan yang kian meresahkan. Hasilnya, pencemaran dipicu operasional pabrik yang melebihi kapasitas alias over capacity.

Sebagai catatan, gelombang keluhan muncul terkait debu sisa penggilingan tebu, serta bau limbah cair yang menyengat. Saat sidak, rombongan legislatif dipimpin Ketua Komisi III DPRD Sragen Sugiarto.

Baca Juga: Gebyar PAUD di Karanganyar, Asah Bakat dan Karakter Sejak Dini

Sugiarto menyadari, keberadaan PG Mojo sebagai cagar budaya sekaligus pilar ekonomi harus tetap dijaga, demi menyerap hasil panen para petani tebu.

Pihak pabrik pun sejatinya sudah berupaya menyemprotkan air (water spray) untuk menekan debu. Namun di sisi lain, kesehatan dan kenyamanan warga sekitar tidak boleh dikorbankan.

“Setelah kami cek langsung di PG Mojo, kapasitas produksinya melebihi batas. Ibarat mobil atau motor tua yang dipaksa beroperasi tinggi, emisi debunya otomatis melonjak drastis,” jelas Sugiarto.

Baca Juga: Kejar Target Belanja Pegawai 30 Persen, Pemkab dan DPRD Sragen Susun Skenario Efisiensi hingga 2029

Anggota Komisi III Muhammad Haris Effendi menambahkan, over capacity dipicu tingginya pasokan tebu dari Solo Raya, untuk mendukung target swasembada gula nasional. Jika kapasitas giling mendadak diturunkan, petani tebu justru gulung tikar.

"Ini butuh pemahaman bersama seluruh stakeholder. Manajemen pabrik sudah mengoperasikan saringan yang ada, tapi hasilnya belum maksimal,” beber Haris.

Mengunci masalah secara permanen, DPRD menekan pabrik agar merealisasikan penambahan unit penyaring electrostatic precipitator (ESP) baru. Tahun ini disiapkan anggaran Rp 10 miliar untuk tambah satu saringan lagi.

Baca Juga: Jembatan Garuda di Gondangrejo Dibuka, Akses Wisata Karanganyar Makin Lancar

“Kalau nanti total sudah ada tiga unit ESP, emisi polusi udara dipastikan bisa ditekan jauh lebih kecil,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PG Mojo Roh Sudianto mengakui adanya lonjakan volume giling. Pihaknya berupaya mengakomodasi panen raya tebu, sekaligus mengemban misi swasembada gula nasional.

“Kapasitas giling kami semula 2.400 tone cane per day (TCD), tahun ini digenjot 3.200 TCD atau rata-rata 3.000 TCD per hari. Kenaikan 600-700 TCD ini yang membuat beban boiler meningkat, sehingga muncul dampak abu tersebut,” urai Sudianto.

Baca Juga: Kapolres Sragen Resmi Jabat Ketua PBVSI, Targetkan Prestasi Nasional

Terkait tudingan pencemaran limbah cair dan bau tak sedap, Sudianto membantah. Berdasarkan audit laboratorium Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jateng, air limbah pabrik diklaim memenuhi baku mutu.

“Saluran air bercampur limbah rumah tangga dan usaha kuliner. Sebenarnya kami bisa zero discharge. Tetapi atas permintaan warga dan petani yang butuh pasokan irigasi, air kolam penampungan (spray pond) akhirnya kami lepas,” bebernya. (din/fer)

Editor : Adi Pras
PG Mojo DLH polusi udara DPRD Sragen giling tebu