RADARSOLO.COM – Potret keasrian sungai di Kabupaten Sragen perlahan memudar, tergantikan oleh tumpukan sampah domestik, gumpalan limbah industri, dan semak liar yang tak terurus.
Kondisi memprihatinkan ini mencuat ke permukaan saat jajaran DPC Partai Demokrat Sragen menggelar aksi kebersihan di bantaran Sungai Garuda, Jumat (31/7/2026). Sungai ini dikenal vital karena membelah pusat kota Sragen.
Aksi lapangan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT ke-25 Partai Demokrat sekaligus mengusung gerakan nasional "Indonesia Langit Biru, Indonesia Asri" tersebut mendapati fakta mengejutkan.
Baca Juga: Mencuat, Aroma Money Politic dalam Pemilihan BPD di Sragen
Sungai-sungai di Sragen tidak hanya mengalami penyempitan dan penyumbatan, namun juga terpapar pencemaran yang berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan mendasar.
”Setelah kami terjun langsung ke lapangan bersama warga, ternyata masih sangat banyak titik sungai yang kumuh. Salah satu contoh kasat mata adalah bantaran Kali Garuda. Ini menjadi catatan berat dan PR besar bagi Dinas Lingkungan Hidup (DLH),” tegas Anggota Fraksi Demokrat DPRD Sragen Mualim Sugiono.
Mualim Sugiono menyoroti lemahnya kinerja pengawasan dan perawatan sungai yang dinilai berakar dari keterbatasan anggaran serta armada operasional DLH.
Baca Juga: Sidak Dapur SPPG, Wabup Karanganyar Warning Kualitas MBG Diperhatikan
Menurutnya, DLH tidak boleh hanya bekerja secara formalitas, melainkan harus memiliki pemetaan data yang presisi mengenai kebutuhan anggaran pemeliharaan tiap-tiap aliran sungai, seperti Kali Garuda hingga Kali Mungkung.
”DLH harus paham detail berapa kebutuhan riil untuk menjaga kebersihan Kali Garuda atau Kali Mungkung. Tidak hanya alat dan personil yang kurang, tetapi ketegasan dalam menindak industri pemicu limbah juga harus ditingkatkan. Jangan biarkan pabrik-pabrik seenaknya membuang limbah cair ke sungai,” ujar Mualim dengan nada mendesak.
Ia menginternalisasi kenangan masa kecilnya saat sungai-sungai di Sragen masih menjadi ruang publik yang bersih dan sehat untuk beraktivitas warga.
Baca Juga: Lahan Warga di Jenar Sragen Diserobot Jadi Tanah Kas Desa, Ini Pengakuan Kades
”Dulu masa kecil saya, mandi di sungai itu segar dan sehat-sehat saja. Sekarang sungai justru jadi tempat pembuangan sampah. Ini harus dianggarkan secara betul-betul agar kualitas air sungai kita kembali membaik,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua DPC Partai Demokrat Sragen Budiono Rahmadi menilai penanganan masalah sungai tidak bisa hanya mengandalkan pembersihan di bagian hilir secara insidental.
Masalah utama terletak pada pengelolaan sampah di tingkat hulu yang belum tuntas serta kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan.
Baca Juga: Modus Penipuan Rekrutmen Pegawai RSUD Karanganyar, Lakukan Wawancara Setingan di Luar Jam Dinas
”Menyelesaikan krisis sungai harus dimulai dari hulu. Budaya masyarakat adalah kuncinya. Kalau pengelolaan berbasis desa sering terkendala keterbatasan lahan, maka kini saatnya pemerintah mengedukasi dan mendorong pengolahan sampah mandiri berbasis RT,” jelas Budiono yang juga bertugas di Komisi 3 DPRD Sragen.
Budiono menyinggung minimnya alokasi dana kebersihan Sragen jika dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Tengah.
Sebagai komparasi, Kabupaten Banyumas mampu mengalokasikan puluhan miliar rupiah per tahun untuk infrastruktur pengolahan sampah terpadu.
Baca Juga: Edarkan Tembakau Sinte Paket Hemat, Pemuda asal Jaten Karanganyar Raup Rp 39 Juta
”Di Sragen anggarannya masih sangat kecil, di bawah Rp 10 miliar per tahun. Memang saat ini Pemkab masih memfokuskan anggaran pada pembenahan jalan dan infrastruktur fisik. Namun, begitu prioritas jalan selesai, pemerintah daerah harus berani mengalokasikan anggaran besar untuk penanganan sampah dan pelestarian sungai,” tuturnya.
Guna memberikan contoh nyata kepada masyarakat, DPC Partai Demokrat Sragen menegaskan bahwa aksi pembersihan sungai tidak berhenti pada kegiatan seremoni semata.
Aksi sosial bersih-bersih bantaran sungai ini bakal dijadikan agenda rutin yang digelar setiap tiga bulan sekali.
Baca Juga: Pedang Pora dan Arak-Arakan Becak Hias Lepas 10 Purnawirawan Bhayangkara Polres Sragen
”Lokasi Kali Garuda kami pilih karena posisinya strategis, tepat berada di jantung kota dan berdekatan dengan fasilitas umum seperti masjid. Harapan kami, tindakan kecil ini dapat mengetuk kesadaran warga sekitar agar tidak membuang sisa makanan atau sampah plastik ke kali,” pungkas Budiono. (din/adi)
Editor : Adi Pras