RADARSOLO.COM — Berjalannya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG) usai masa libur sekolah ternyata belum mampu mengangkat harga telur ayam ras di tingkat peternak skala kecil di Kabupaten Sragen.
Penyebabnya surplus pasokan serta gempuran pasokan telur dari luar daerah membuat harga di tingkat peternak lokal tersendat.
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga telur ayam di pasar ritel atau pengecer saat ini berada di kisaran Rp 21 ribu per kilogram.
Baca Juga: Antisipasi Kebakaran Gunung Lawu, Pemkab Karanganyar Usulkan Pembangunan Embung Hutan
Namun, nasib lebih memprihatinkan dialami para peternak skala kecil di pedesaan yang harga jualnya dibawah angka Rp 20 ribu per kg, bahkan tidak jarang dihargai di bawah angka tersebut (Rp19 ribuan per kg).
Pengawas Bibit Ternak Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Sragen Agung Bowo Wiratno membenarkan, pergerakan harga telur di tingkat peternak mandiri masih sangat lemah.
Hal ini disebabkan oleh masuknya pasokan besar dari Jawa Timur yang membanjiri pasar lokal.
Baca Juga: Dua Polisi Gadungan Dibekuk Polres Sragen, Rampas Motor Pelajar Berkedok Razia
"Untuk Sragen sendiri sebenarnya peternak lokal mengalami kesulitan di pemasarannya. Pasokan di Sragen kebanyakan sudah diserbu dan diisi dari Ngawi dan wilayah Jawa Timur lainnya," ujar Agung.
Ia menjelaskan, keberadaan program MBG sejatinya menyerap komoditas pangan dalam jumlah besar.
Kendati demikian, penyerapan tersebut mayoritas dinikmati oleh peternak bermodal besar yang sudah memiliki jaringan distribusi terintegrasi.
Baca Juga: Proyek Jalan Diduga Asal-Asalan, Forum Peduli Masyarakat Karanganyar Desak Disetop Sementara
Sementara peternak rakyat dengan populasi di bawah 5.000 ekor tidak memiliki akses langsung ke rantai pasok MBG.
"Peternak lokal yang populasinya di bawah 5.000 ekor itu tidak ada jaringan ke sana (MBG). Kalau peternak besar yang punya jaringan luas di Masaran atau wilayah lain mungkin bisa terserap. Kesulitan utama peternak kecil di bawah 5.000 ekor ya pada distribusi dan pemasaran barangnya," kata Agung.
Agung menambahkan, populasi ayam petelur di Kabupaten Sragen terbilang cukup besar, yakni mencapai kisaran satu juta ekor.
Baca Juga: Proyek Jalan Diduga Asal-Asalan, Forum Peduli Masyarakat Karanganyar Desak Disetop Sementara
Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 20 lebih peternak skala kecil yang kini harus menanggung beban operasional akibat keterpurukan harga.
Kondisi ini kian memberatkan lantaran tingginya biaya operasional dan pakan. Pada tahun sebelumnya, pemerintah sempat mengintervensi melalui program jagung subsidi yang diminati peternak.
Namun memasuki tahun 2026, daya beli peternak lokal makin tergerus sehingga sulit mengimbangi biaya produksi.
Baca Juga: Kejutan, Ketua Persatuan BPD Sragen Tumbang di Kandang Sendiri
"Banyak peternak kecil yang mengeluhkan kerugian. Pakan mahal dan barang (telur) melimpah sehingga terjadi surplus. Jika peternak besar masih sanggup bertahan karena memiliki rantai pasar tersendiri, peternak kecil sangat bergantung pada pergerakan pasar reguler," jelasnya.
Guna membantu menyerap kelebihan produksi dan menjaga stabilitas harga peternak lokal, pihak dinas mendorong adanya kolaborasi intervensi pasar.
Seperti penyelenggaraan Pasar Murah bekerja sama dengan organisasi kemasyarakatan maupun sponsor terkait sambil menunggu pemulihan daya serap pasar secara alami. (din/adi)
Editor : Adi Pras