RADARSOLO.COM – Musim giling tebu yang seharusnya jadi ladang rezeki bagi para pengangkut hasil bumi justru berubah jadi ujian kesabaran yang menguras tenaga dan isi dompet.
Kelangkaan dan rumitnya distribusi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di wilayah Solo Raya bikin para sopir truk menjerit.
Sering terlihat armada truk terpaksa parkir di SPBU. Bukan untuk sekadar melepas lelah, melainkan memburu literan solar yang makin hari makin sulit didapat.
Baca Juga: Mabes Polri Gerebek Gudang Bio Solar di Gondang Sragen
Keluhan tersebut disuarakan langsung oleh Eko, 35, seorang sopir truk angkut tebu asal Grompol, Masaran.
Menurutnya, penderitaan memburu solar ini sudah berlangsung cukup lama dan tak kunjung mendapat solusi konkret.
”Sudah hampir sembilan bulan lebih solar susah didapat. Antrean paling cepat itu bisa sejam, itu pun kalau stoknya ada,” ujar Eko di sela-sela aktivitas antrean setor tebu di PG Mojo Sragen, Kamis (6/8/2026).
Eko menceritakan, kelangkaan solar merata di hampir seluruh kawasan Solo Raya. Mulai dari Sragen, Karanganyar, Solo, hingga Klaten.
Baca Juga: Gunung Lawu Terbakar, Lokasi di Petak 12-1 Jalur Tambak Ngargoyoso Karanganyar
Kondisi makin parah ketika memasuki sore hari. Mayoritas SPBU sudah memasang papan pengumuman bahwa stok solar telah ludes.
Di Sragen sendiri, solar biasanya hanya tersedia di beberapa SPBU besar seperti SPBU Nglangon dan SPBU Paldaplang.
Namun, pasokannya kerap tak sebanding dengan membludaknya antrean kendaraan logistik dan angkutan tebu yang sedang memasuki puncak musim giling.
Baca Juga: Pembobol Rumah Spesialis Congkel Jendela di Sragen Dibekuk, Ternyata Residivis
”Kalau pas jam sore, biasanya sudah habis semua di tiap pom. padahal untuk sekali jalan rute Sragen ke Jogja, setidaknya butuh solar sekitar Rp 350 ribu,” tambahnya.
Masalah tak berhenti pada kelangkaan fisik solar semata. Mekanisme pembelian menggunakan sistem barcode (QR Code) serta adanya pembatasan kuota pembelian harian kian menyulitkan pergerakan armada angkutan.
Eko menyebut, pembatasan nominal pembelian berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 240 ribu per armada membuat para sopir tak bisa mengisi tangki hingga penuh untuk perjalanan jarak jauh. Akibatnya, efisiensi kerja merosot tajam.
Baca Juga: Demi KDMP, Pedagang Pasar Papahan Karanganyar Diminta Pindah
Dalam sehari, para sopir rata-rata hanya sanggup menyelesaikan satu kali pengiriman (rit) dari lokasi perkebunan menuju pabrik gula atau titik distribusi.
Kondisi ini memukul perekonomian para pekerja sektor transportasi bawah yang menggantungkan hidup harian dari kelancaran arus barang.
”Pak Bahlil (Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Red), permudahkanlah solar! Biar rakyat dan sopir-sopir yang cari makan di jalan ini mudah dapat solar. Biar kami bisa cari makan dengan tenang,” tegas Eko. (din/adi)
Editor : Adi Pras