KTNA Sragen Kritik Sekolah Lapang Iklim BMKG

Ahmad Khairudin • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 19:08 WIB

 

Petani di Sragen sedang merawat tanaman padi yang siap untuk dipanen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Petani di Sragen sedang merawat tanaman padi yang siap untuk dipanen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Program Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang digagas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah untuk membantu petani menghadapi perubahan cuaca justru menuai kritik di Kabupaten Sragen.

Program yang diharapkan mendukung swasembada pangan itu dinilai penting untuk membaca pola musim dan mengantisipasi risiko gagal panen.

Namun, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen menilai pelaksanaannya terlambat dan belum menyentuh mayoritas petani di lapangan.

Baca Juga: Pelaku Curanmor di MPP Sragen Dibekuk, Beraksi usai Urus KTP

Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah sekaligus Koordinator BMKG Jawa Tengah Guruh Ciptanto mengatakan, SLI bertujuan membekali petani dengan pemahaman mengenai dinamika iklim.

Pengetahuan tersebut diperlukan baik ketika curah hujan tinggi maupun saat memasuki musim kemarau.

“Jika kondisi iklim seperti tahun 2024 yang tinggi curah hujan atau saat memasuki kemarau seperti sekarang, petani tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana mengantisipasinya,” ujar Guruh, Senin (10/8/2026).

Baca Juga: Tiga BMT Dilaporkan ke Polres Karanganyar, Diduga Bermasalah: Omzet Capai Miliaran

Menurut dia, pemahaman mengenai iklim dapat membantu petani menentukan waktu tanam, mengatur kebutuhan air, hingga memilih varietas tanaman yang sesuai dengan kondisi cuaca.

BMKG juga mendorong petani memanfaatkan aplikasi Info BMKG untuk mendapatkan informasi cuaca hingga tingkat desa.

Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan waktu pemupukan, panen, maupun aktivitas pertanian lainnya.

Baca Juga: Beredar Video Viral Hajatan di Sragen Ricuh, Kapolsek Ngrampal Tegaskan Tak Ada Pengeroyokan MC

Guruh menilai petani perlu memahami kondisi iklim bukan hanya dalam hitungan harian, tetapi juga dalam rentang dasarian hingga musiman.

Dengan begitu, keputusan terkait ketersediaan air irigasi dan pemilihan benih dapat dilakukan lebih presisi.

Namun, program tersebut mendapat sorotan dari Ketua KTNA Sragen Suratno. Dia menilai sosialisasi pola tanam yang dilakukan BMKG tidak cukup efektif karena digelar ketika petani sudah mengambil keputusan tanam.

“Ini kan sudah masuk Agustus, padahal tinggal dua bulan lagi. Bahkan di beberapa wilayah Sragen sudah hampir semuanya sudah tanam,” ungkap Suratno.

Baca Juga: 144 Desa di Karanganyar Bakal Menggelar Pilkades Serentak 2027

Menurut dia, edukasi mengenai pola iklim seharusnya diberikan jauh sebelum Musim Tanam 3 (MT 3) dimulai.

Dengan sosialisasi lebih awal, petani memiliki waktu untuk menyesuaikan pola tanam, memilih varietas, hingga menyiapkan sumber air.

Suratno mengatakan, petani Sragen selama ini juga tidak tinggal diam menghadapi perubahan cuaca.

Mereka telah melakukan berbagai langkah antisipasi secara mandiri, mulai mempercepat masa tanam, memilih benih berumur genjah dan tahan kekeringan, hingga mengandalkan pompanisasi.

Baca Juga: Disidak Bupati Sragen, Sengketa Air Desa Jono-Gawan Rampung

Sebab itu, pelaksanaan SLI pada Agustus dinilai kurang memberikan dampak maksimal bagi petani yang sudah lebih dulu menentukan pola tanam.

“Ya lebih baik diadakan daripada tidak sama sekali. Tapi ke depan, sosialisasi seperti ini harus dilakukan jauh-jauh hari,” tegasnya.

Kritik juga diarahkan pada cakupan peserta. Menurut Suratno, pelatihan yang hanya melibatkan sejumlah perwakilan petani berisiko membuat informasi berhenti di tingkat peserta dan tidak menyebar secara merata ke kelompok tani lainnya.

Baca Juga: Buntut Penyegelan BMT Alfa Dinar, Pemkab Karanganyar Perketat Pengawasan Koperasi

“Sekolah lapang ini mestinya paling tidak satu desa, syukur-syukur satu kelompok tani satu. Kalau hanya diambil beberapa orang saja, akhirnya informasi tidak menyebar,” katanya.

Dia mendorong BMKG mengubah pola penyebaran informasi agar lebih masif. Media sosial, menurutnya, dapat menjadi salah satu sarana efektif karena semakin banyak petani yang telah terbiasa mengakses informasi melalui platform digital.

Meski menganggap pelaksanaan kali ini cenderung formalitas karena petani telah lebih dulu melakukan antisipasi, KTNA tetap mengapresiasi upaya BMKG.

Baca Juga: Truk KDMP Dipakai untuk Angkut Tebu, Pemkab Sragen Buka Suara

Suratno berharap ketersediaan air, termasuk dari sumur-sumur dalam milik warga, mampu menopang tanaman hingga panen MT 3.

Di balik perbedaan pandangan tersebut, kebutuhan petani terhadap informasi iklim sebenarnya tidak terbantahkan.

Persoalannya kini bukan sekadar apakah informasi diberikan, tetapi kapan informasi itu disampaikan dan seberapa luas petani bisa mengaksesnya.

Baca Juga: Awarding Night Karanganyar Mencari Bakat Sedot 675 Peserta

Bagi Sragen sebagai salah satu sentra produksi pangan, informasi iklim yang datang terlambat berisiko kehilangan momentum.

Sebaliknya, informasi yang diberikan lebih awal dan menjangkau petani hingga tingkat kelompok tani dapat menjadi bekal penting untuk menentukan strategi tanam sekaligus menekan risiko gagal panen. (din/bun)

 

 

Editor : Adi Pras
KTNA Sragen BMKG gagal panen sragen pertanian