RADARSOLO.COM – Kasus memprihatinkan menimpa seorang siswa kelas 2 SD di Sambungmacan, Sragen. Dia terpaksa berhenti sekolah selama satu tahun akibat tidak diizinkan orang tuanya sendiri.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen Sukisno mengungkapkan, kasus ini menjadi sebuah fenomena baru yang sangat disayangkan.
”Sepengetahuan kami, baru kali ini menangani anak yang tidak diizinkan sekolah oleh orang tuanya. Kalau yang lain biasanya masalah keluarga tapi bisa diselesaikan dan anak tetap sekolah. Kalau ini, anak nggak boleh sekolah dan nyatanya memang tidak sekolah,” ujar Sukisno, Rabu (3/9/2026).
Baca Juga: TPA Tanggan Kapasitas Tembus 90 Persen, DLH Sragen Tegas Tolak Sampah dari Solo
Pihaknya bersama lintas instansi terkait, termasuk Dinas Sosial, PPA, dan kecamatan tidak tinggal diam. Berbagai langkah persuasif telah diupayakan demi menyelamatkan masa depan sang anak.
Mulai dari menawarkan fasilitas pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan pemberian tugas. Hingga menginisiasi agar anak tersebut dipindahkan ke sekolah yang lokasinya lebih dekat dari rumah.
Bahkan, pihak berwenang sempat menawarkan solusi fasilitas antar-jemput menggunakan ojek agar anak tetap bisa mengakses pendidikan.
Baca Juga: Usaha Mebel di Jumapolo Karanganyar Terbakar, Kerugian Rp 300 Juta
Namun sayang, seluruh tawaran tersebut tidak pernah mendapatkan respons positif dari pihak orang tua.
”Padahal informasi dari teman-teman di lapangan secara ekonomi keluarga ini mampu. Tapi karena ketidakharmonisan antara suami istri, dampaknya justru mengorbankan hak anak,” tambah Sukisno.
Terkait penyebab orang tua melarang karena kekisruhan internal keluarga. Saat ini, nama siswa yang bersangkutan tetap tercatat sebagai peserta didik di SDIT Az Zahra dengan status tinggal kelas di kelas 2.
Baca Juga: Izin Pusat Klir Tapi Daerah Belum Rampung, Desak Pemkab Sragen Tindak PT Donglong
”Kalau sampai dikeluarkan sepihak oleh sekolah, kan kasihan anak-anak tidak punya status sebagai pelajar. Harapan kami waktu itu, sapa ngerti nanti sewaktu-waktu orang tuanya mau atau memperbolehkan anaknya sekolah lagi,” tandas Sukisno. (din/adi)
Editor : Adi Pras