RADARSOLO.COM – Aksi tak senonoh pasangan remaja berciuman di Taman Edupark Gemolong mendadak jadi sorotan publik.
Merespons insiden yang mencoreng citra ruang publik tersebut, Camat Gemolong Nugroho Tri Wibowo mendorong penanganan lintas pihak agar kejadian serupa tidak terus terulang.
Bowo mengakui insiden bermesraan di muka umum tersebut bukan kali pertama terjadi. Menurut catatannya, peristiwa serupa di area Taman Edupark Gemolong setidaknya sudah dua kali mencuat.
Kendati demikian, pihak kecamatan menghadapi kendala dalam melakukan penataan dan pengawasan secara langsung.
”Kewenangan pengelolaan taman itu ada di Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman Pertanahan dan Tata Ruang (Disperkimtaru) Sragen. Pagi hari memang ada petugas yang menjaga, tetapi area itu juga digunakan untuk parkir. Jadi kami di kecamatan memang tidak punya akses langsung untuk mengatur atau mengelola area tersebut,” ujarnya, Selasa (15/9/2026).
Meski terkendala batasan kewenangan aset, pihaknya menyadari bahwa dampak sosial dan kemasyarakatan dari perilaku tidak terpuji tersebut tetap menjadi perhatian bersama.
Baca Juga: Muncul Titik Api di Gunung Lawu, Jalur Pendakian Cemoro Kandang dan Cetho di Karanganyar Ditutup
Karena itu, pihaknya menyuarakan pentingnya kolaborasi antara dinas terkait dengan elemen masyarakat setempat.
Di kawasan tersebut sudah ada Paguyuban Masyarakat Gemolong Asri yang rutin mengelola berbagai kegiatan. Seperti car free night tiap akhir pekan.
Paguyuban ini dinilai siap diterjunkan untuk membantu pengawasan jika dinas kekurangan personel.
”Tamannya memang luas dan rindang. Kalau akhir pekan ramai, tapi kalau hari biasa sejuk dan rimbun, sering dipakai anak sekolah dan warga untuk beraktivitas. Kalau Dinas Perkim kekurangan personel, teman-teman paguyuban siap diajak kolaborasi untuk penambahan pengawasan atau petugas keamanan,” ujarnya.
Baca Juga: Sebatang Kara, Warga Sragen Diduga Jadi Korban Kapal Virgo Transport 8
Ia menambahkan, celah pengawasan sering kali terjadi di area belakang taman. Kondisi rimbun dan banyaknya akses masuk seperti pintu samping yang tidak terkontrol dimanfaatkan oknum remaja untuk berbuat nekat.
Padahal lokasinya masih terlihat dari arah jalan maupun warung sekitar.
Situasi diperparah dengan belum tersedianya fasilitas closed circuit television (CCTV) di area taman.
Petugas dari perkim yang bersiaga umumnya hanya berfokus di area depan tempat aktivitas warga seperti area memancing dan tempat melukis anak-anak.
Baca Juga: Bayar Pajak dan Retribusi Daerah di Karanganyar Kini Bisa lewat QRIS
Mengenai identitas sejoli dalam video atau insiden viral tersebut, pihak kecamatan menyatakan masih berkoordinasi dengan pengurus paguyuban untuk melakukan penelusuran lebih lanjut.
”Ya terus terang kami kecolongan. Kami sudah menginstruksikan teman-teman di lapangan untuk memperketat siaga. 'Ojo enek kayak ngono lah, ngisin-ngisini' (Jangan ada lagi yang seperti itu, bikin malu),” tegasnya. (din/adi)
Editor : Adi Pras