RADARSOLO.COM – Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan Sragen Batik Heritage Fest 2026 di Jalan Urip Sumoharjo hingga Jalan Ahmad Yani, Kota Sragen, Sabtu (3/10/2026) sore.
Di antara riuh dan megahnya helatan, ada satu pemandangan yang seketika menyedot perhatian penonton: rombongan berbalut warna hitam pekat dengan gaya ala manusia purba.
Mereka adalah kelompok karnaval dari perwakilan Desa Krikilan kawasan situs purbakala Sangiran, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe.
Baca Juga: Aksi Koboi Jalanan di Sragen: Tembak Paha Lawan Pakai Airsoft Gun Berujung Babak Belur Dikeroyok
Seluruh tubuhnya dilumuri hangus hitam yang terbuat dari arang batok kelapa dan hanya mengenakan pakaian bawahan berserat sintetis bergaya purba.
Mereka juga berpose jenaka sekaligus garang ke arah kamera. Tak ayal penampilannya menyita perhatian warga.
Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Sragen Tugiyono bersama Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumindag) Sragen Cosmas Edwi Yunanto secara resmi melepas rombongan dari titik awal Jalan Urip Sumoharjo.
Rombongan berjalan santai menempuh rute sepanjang 1,5 kilometer menuju garis finis di Sentra Industri Kreatif dan Kerajinan (SIKK) Sragen.
Baca Juga: Resahkan Warga Kebakkramat, 127 Sepeda Motor Diangkut Satlantas Karanganyar
Di panggung utama Taman Mangkubumi, Bupati dan Wakil Bupati Sragen bersama jajaran tamu VIP telah bersiap menyambut iring-iringan.
Koordinator Suku Sangir Krikilan Kalijambe, Putut Ari Wibowo, 43, menjelaskan, narasi Suku Sangir terinspirasi dari jejak peradaban paling tua di Tanah Jawa yang ditemukan di Sangiran.
Keberadaan jejak purba inilah yang mendasari munculnya tagline Kabupaten Sragen: The Land of Java Man.
”Suku Sangir ini berawal dari Kelompok Theater Sangir yang berdiri sejak 2019. Kami hampir setiap hari bertemu untuk berdiskusi. Dalam performance, kami lebih mengedepankan improvisasi,” tutur Putut, sapaan akrabnya.
Baca Juga: Pansus Raperda Telekomunikasi DPRD Sragen Desak Provider Bertanggung Jawab terkait Kabel Semrawut
Putut menambahkan, tim seni Suku Sangir terus berbenah dan berkembang guna mendukung keberlanjutan Desa Wisata Krikilan.
Kreativitas mereka juga terlihat dari pemilihan bahan kostum dan riasan. Untuk memberi efek hitam pekat pada kulit, mereka memanfaatkan limbah arang batok kelapa dari pabrik sekitar.
”Dulu pernah pakai kulit beneran, tetapi gampang rusak. Sekarang kami pakai kostum dengan bahan sintetis agar lebih awet,” pungkas Putut.
Lewat balutan arang batok dan aksi teater jalanan yang ekspresif, Suku Sangir berhasil membawa nostalgia zaman purba ke tengah kemegahan festival batik modern Sragen. (din/adi)
Editor : Adi Pras